AS: Perda Ahmadiyah Merusak Toleransi

Kompas.com - 10/03/2011, 21:32 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Konsul Jenderal AS di Surabaya Kristen F Bauer menilai peraturan daerah yang membatasi Jamaah Ahmadiyah sebagai kelompok minoritas akan merusak reputasi Indonesia sebagai negara demokrasi dengan tradisi toleransi yang kuat.

"Kami mengutuk kekerasan terhadap kelompok minoritas dan hukum seharusnya melindungi minoritas. Karena itu perda seharusnya melindungi minoritas agar tak mengalami kekerasan dan bukan justru membatasi aktivitas," katanya di Surabaya, Kamis (10/3/2011).

Ia mengemukakan hal itu di sela-sela Dialog Antar-Agama di kediaman Konsul Jenderal AS di Surabaya yang dihadiri 30 anak muda, di antaranya enam mahasiswa peserta program Study of US Intitute untuk mempelajari dialog antar-agama di AS dan sejumlah anak muda dari lima agama di Jatim.

Menurut Bauer, kekerasan terhadap kelompok agama itu biasanya memiliki tiga motif yakni salah paham, mis-komunikasi, dan kurangnya pengetahuan, namun dirinya tidak tahu motif mana yang melandasi kekerasan terhadap Jamaah Ahmadiyah.

"Untuk itu, hukum seharusnya melindungi warga negara tanpa diskriminasi kepada minoritas dan mayoritas, bukan justru membatasi dengan perda yang merusak reputasi Indonesia sebagai negara demokrasi dengan tradisi toleransi yang kuat," katanya.

Oleh karena itu, ia mengajak anak-anak muda Indonesia untuk mengembangkan proses dialog secara terus menerus dan berbagi pengalaman tentang hubungan dengan kelompok minoritas agama antara Indonesia dan Amerika.

"Kami menangkap pesan bahwa mereka membenci kekerasan dan mendukung toleransi, karena itu kami senang menjamu anak-anak muda untuk berdialog dalam perbedaan agama," katanya setelah menyimak dialog antara anak-anak muda, baik mereka yang pernah ke Amerika maupun mereka yang sering berinteraksi dengan lembaga keagamaan.

Sementara itu, peserta program SUSI, Ratnasari, mengaku sempat khawatir dengan Amerika saat hendak berangkat, mengingat dirinya mengenakan jilbab dan Muslim.

"Alhamdulillah, kekhawatiran saya tentang anti-Muslim itu tidak terbukti. Saya banyak belajar tentang demokrasi, agama, dan kehidupan sosial," kata mahasiswi Universitas Negeri Jember (Unej) itu.

Selama berinteraksi dengan warga Amerika dari berbagai agama itu, katanya, ternyata pluralisme itu bukan hanya menerima perbedaan, tapi pluralisme adalah keinginan dalam hati untuk saling mengenal dan menghargai mereka yang berbeda agama.

Dalam dialog itu, mahasiswa beragama Hindu dari ITS, Intan, menilai Amerika sudah tertata dalam sistem, sedangkan Indonesia masih banyak perbedaan sosial, sehingga dirinya masih mengalami diskriminasi dalam agama.

"Awalnya, saya tidak percaya, tapi saya akhirnya mengalami sendiri saat mengisi kolom agama dalam KTP (kartu tanda/identitas penduduk). Indonesia berbeda dengan Amerika yang sistemnya sudah berjalan rapi, karena di Indonesia masih ada masyarakat yang fanatis," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau