Rumah sakit

Stok Beberapa Obat di RSUD Kupang Habis

Kompas.com - 11/03/2011, 21:33 WIB

KUPANG, Kompas.com - Stok beberapa jenis obat di Rumah Sakit Umum Yohannes Kupang habis. Pasien terpaksa membeli obat di apotik umum. Kehabisan stok obat itu dirasakan sejak November 2010.

Pelayanan di rumah sakit itu pun selalu mengecewakan masyarakat. Sering pasien berat rawat inap ditinggal sendirian oleh petugas kesehatan, lampu listrik padam mendadak saat sedang kegiatan operasi pasien berlangsung, dan pungutan jasa dokter berubah-ubah.

Ny Maryanti Lada (55 ) anggota keluarga pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) WZ Yohannes Kupang di Kupang, Jumat (11/3/11) mengatakan, anggota keluarga yang dirawat di rumah sakit itu bernama CF (38) sejak Februari 2011 karena komplikasi penyakit.

"Setiap dokter mendiagnosa obat tertentu, petugas di bagian apotik selalu mengatakan obat habis. Tidak hanya obat tetapi kain kasa steril untuk verban saja tidak ada. Banyak pasien Askeskin terpaksa membeli obat di luar rumah sakit dengan harga jauh lebih tinggi di banding rumah sakit," kata Lada.  

Pensiunan perawat pada salah satu rumah sakit swasta Kota Kupang ini mengatakan, beberapa jenis obat di rumah sakit yang selalu dinyatakan habis oleh petugas rumah sakit yakni adrenal, andarsil, cedocard, paratusin, dan baquinor. Kekurangan stok obat jenis ini diperoleh dari petugas apotik di rumah sakit itu.

Lada mempertanyakan, ke mana alokasi dana puluhan miliar rupiah dari dana APBD setiap tahun ke rumah sakit itu. Obat itu kebutuhan paling pokok yang tidak boleh habis dalam kurun waktu yang relatif lama.

Marsel Markus (32) mantan pasien rawat inap di rumah sakit itu menuturkan, pelayanan di rumah sakit itu pun sangat mengecewakan. Banyak pasien rawat inap tidak dijaga petugas kesehatan, pasien tidak mendapat perawatan sesuai harapan. Karena begitu kecewa, pasien terpaksa meninggalkan rumah sakit, sebelum mendapat kesembuhan.

"Rumah sakit itu sangat mengecewakan dalam segala hal. Listrik sering padam termasuk saat operasi sedang berjalan, dokter jaga jarang di tempat, perawat selalu marah atau emosional berhadapan dengan pasien, pungutan terhadap jasa dokter untuk pasien bukan peserta Askes sampai Rp 500.000 per kunjungan," kata Markus.

Ia pun minta Dinas Kesehatan NTT segera membenahi rumah sakit itu karena fungsinya sebagai rumah sakit rujukan dari 21 kabupaten/kota, rumah sakit pendidikan para calon dokter dari Universitas Nusa Cendana Kupang, dan rumah sakit kebanggaan warga Kota Kupang.

Kepala IGD RSUD Yohannes Kupang dr Frengki Touw membenarkan, kehabisan beberapa jenis stok obat di rumah sakit itu. Ia mencatat obat jenis adrenal, sulfastropin, sulfanol, dan kain kasa steril untuk verban pembalut luka habis.

"Saya tidak tahu persis berapa jenis obat yang habis di apotik rumah sakit itu tetapi yang jelas untuk kebutuhan di IGD seperti adrenalyn, sulfastrophin, dan kain kasa selalu habis. Adrenalin pernah habis bulan November 2010 tetapi diadakan Januari 2011, kemudian habis lagi sampai sekarang," kata Touw.

Soal pungutan tinggi di rumah sakit ia mengatakan, Pemda NTT telah mengeluarkan Perda mengenai tarif di rumah sakit itu. Tidak mungkin ada petugas medis meminta jasa pelayanan lebih dari ketentuan yang ada.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau