GRESIK, KOMPAS.com — Berawal dari modal patungan awal dari para pendirinya tahun 2004 dengan total dana Rp 125 juta, kini dana yang dikelola BMT Kube Sejahtera Karang Cangkring, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, mencapai Rp 6 miliar. Uniknya, BMT ini juga bukan dikelola orang dari disiplin ilmu keuangan. Tapi, karena didasari amanah dan ingin bermanfaat bagi lingkungannya, lembaga ini kini membuka cabang di wilayah kecamatan lainnya.
Manajer Koperasi BMT Kube Sejahtera M Ayubi Chozin dan Ketua Pengurus Koperasi BMT Kube Sejahtera Mahfud menjelaskan, pihaknya berencana membuka cabang di setiap wilayah kecamatan di Gresik.
"Kami berharap di setiap wilayah kecamatan di Gresik ini akan berdiri cabang BMT Sejahtera, dan saat ini kami sudah mengurus izin ke Provinsi Jawa Timur agar bisa beroperasi di luar Gresik. Kami membuat sistem sesuai syariah dan memerangi rentenir," ujarnya, Sabtu (12/3/2011).
Sejarah berdirinya lembaga tersebut juga menarik. Awalnya pada tahun 2004, Kepala Desa Karang Cangkring Sudirman memerintahkan perangkat desa, M Ayubi Chozin, yang menjadi pedagang eceran di Pasar Kliwon, Desa Karang Cangkring, untuk ikut pelatihan dari Departemen Sosial. Total dari Kecamatan Dukun ada 10 orang yang ikut pelatihan.
Sepulang dari pelatihan, Ayubi mengumpulkan hampir separuh jumlah penduduk Desa Karang Cangkring, namun hanya 30 orang yang berminat bergabung mendirikan keperasi. Koperasi itu diberi nama Koperasi BMT Kube Sejahtera unit 23. Mereka yang bergabung akhirnya iuran hingga terhimpun dana Rp 125 juta.
Saat itu, warga yang membutuhkan diberi pinjaman masing-masing sebesar Rp 500.000 tanpa jaminan dengan sistem tanggung renteng setiap kelompok peminjam. Aturan peminjaman sangatlah longgar dan mengikuti kehendak peminjam sehingga koperasi itu cepat berkembang.
Petani yang butuh modal, pengembaliannya menunggu panen. Jika gagal panen, pembayaran mundur tanpa kena penalti. Angsuran cicilan ada yang setiap lima hari sekali, ada yang setiap bulan, bahkan ada yang tiap tiga bulan sekali tergantung kesepakatan awal dengan peminjam.
Setelah enam tahun berjalan, Koperasi BMT Kube Sejahtera telah mampu ekspansi di beberapa tempat, seperti di Pasar Dukun, Pasar Campurrejo Panceng, dan di awal tahun 2011 ini di Pasar Balong Panggang. Dalam Rapat Anggota Tahunan Februari 2011, aset koperasi itu mencapai Rp 5.799.291.087 atau hampir Rp 6 miliar.
Koperasi tersebut juga menjalankan fungsi selaku pengumpul sekaligus penyalur zakat, infak, sedekah, baik dari kalangan pengurus, karyawan, penabung, maupun peminjam uang. Peminjam uang disarankan menzakatkan 0,5 persen dari nilai pinjaman. Karyawan dan pengurus dipungut zakat pendapatan dan infak.
Hasil pengumpulan dana zakat, infak, dan sedekah itu bisa membantu penebusan beras untuk masyarakat miskin senilai Rp 6,9 juta setahun, santunan berupa uang ke fakir miskin dan anak yatim mencapai Rp 15 juta setahun, biaya kebutuhan sekolah anak yatim dan miskin Rp 5,7 juta setahun. Selain itu juga untuk pelunasan orang yang utang ke rentenir Rp 28 juta setahun. Bahkan, dananya juga untuk sumbangan pembangunan fisik ke desa Rp 10 juta setahun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang