Pemerintah Intervensi Pengembang, Jamin Bangunan Tahan Gempa

Kompas.com - 12/03/2011, 20:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Peristiwa gempa dan tsunami berkekuatan 8,9 yang menimpa Jepang tak menutup kemungkinan akan terjadi di negara-negara yang terletak di cincin api (ring of fire), salah satunya di Indonesia.

Tak bermaksud mengerdilkan jumlah korban gempa dan tsunami Jepang yang tercatat sekitar 1.000 jiwa, bila dibandingkan dengan gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004 yang memakan korban ratusan ribu jiwa, Jepang berhasil meminimalkan risiko akibat gempa lewat konstruksi bangunannya.

Sudah bukan rahasia lagi, sebagai negara yang mengakrabi gempa sebagai makanan sehari-hari ini, Jepang merancang dengan kode etik bangunan yang aman bagi penduduknya.

Menurut peneliti geoteknologi dan paleoseismologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, di Indonesia, bangunan tahan gempa sudah ada kode etiknya, hanya saja hal tersebut tidak dijalankan seketat Jepang.

"Bangunan tahan gempa sebenarnya bisa dipantau dari izin mendirikan bangunan (IMB) yang dikeluarkan pemerintah. Namun, yang terjadi, IMB lebih untuk menarik retribusi, bukan untuk kode etik keselamatan bangunan," kata Eko, yang dihubungi Kompas.com, Sabtu (12/3/2011).

Eko meminta pemerintah segera melakukan intervensi terkait keselamatan bangunan di Indonesia. "Kebutuhan masyarakat akan rumah masih tergantung pengembang. Jadi, pemerintah harus melakukan intervensi kepada para pengembang. Mereka harus memberikan jaminan bahwa proyeknya bukan semata-mata bebas dari banjir, tapi juga aman dari gempa," papar Eko. (Natalia Ririh)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau