Ketahanan energi

Konservasi Lebih Hemat Dibanding Konversi Nabati

Kompas.com - 14/03/2011, 03:25 WIB

Jakarta, Kompas - Fluktuasi harga minyak fosil internasional yang cenderung naik berdampak pada berbagai upaya pemerintah mempertahankan ketahanan energi. Berdasarkan riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, konservasi energi berupa penghematan dengan penggunaan teknologi lebih efisien ternyata jauh lebih baik dibanding mengonversi minyak fosil dengan bahan bakar nabati.

”Riset konservasi energi, seperti memindahkan moda transportasi individual menjadi transportasi massal, bisa menghemat 50 persen, sedangkan konversi bahan bakar fosil dengan nabati menghemat tak sampai 1 persen,” kata Direktur Pusat Audit Teknologi BPPT Arya Rezavidi, Jumat (11/3) di Jakarta.

Menurut Arya, pemerintah jangan terjebak dengan fluktuasi harga minyak fosil saat ini. Konversi ke minyak nabati tidak serta-merta mengatasi persoalan.

Menurut Arya, produksi bahan bakar nabati saat ini belum bisa menyaingi harga bahan bakar minyak fosil. Bahkan, kenaikan harga minyak fosil akan diiringi kenaikan harga berbagai komoditas yang bisa dijadikan sumber bahan bakar nabati. ”Namun, visi mengembangkan energi terbarukan dengan bahan bakar nabati tetap harus ditempuh untuk jangka panjang,” ujar Arya.

Menurut Arya, batu bara masih merupakan bahan bakar fosil termurah. Untuk memproduksi energi listrik dibutuhkan 5-7 sen dollar AS per kilowattjam. Dengan bahan bakar nabati untuk konversi minyak diesel, misalnya, membutuhkan biaya di atas 20 sen dollar AS per kilowattjam.

Energi terbarukan dengan energi hidro berskala besar di atas 10 megawatt, menurut Arya, sebetulnya masih menjadi sumber energi murah. Biaya produksi hanya 4-5 dollar AS per kilowattjam. Namun, saat ini pemanfaatan baru sekitar 10 persen.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Unggul Priyanto mengatakan, sumber bahan bakar nabati paling efisien saat ini adalah tetes tebu. Namun, sumber bahan baku ini masih minim dan harus bersaing dengan industri gula. ”Biji-bijian memang banyak jenisnya, tetapi tak cukup untuk skala industri,” katanya.

Menurut Unggul, konservasi dengan minyak nabati saat ini belum bisa bersaing dengan harga minyak fosil. Namun, energi terbarukan tetap berpotensi menjadi sumber energi masa depan ketika bahan bakar fosil makin langka. (NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau