Flu burung

19 Penderita Flu Burung Dirawat di RS

Kompas.com - 14/03/2011, 19:11 WIB

PADANG, KOMPAS.com - RSUP M Jami Padang, Sumatera Barat telah merawat sebanyak 19 orang pasien yang dicurigai (suspect) terinveksi virus flu burung.

"Sejak Januari hingga Maret 2011, kami telah merawat sebanyak 19 pasien susfect flu burung, sedangkan tahun sebelumnya sebanyak 13 orang," kata Humas RSUP M Djamil Padang Gustavianof, di Padang, Senin (14/3/2011).

Dua orang pasien yang juga diduga menderita flu burung, tercatat baru saja masuk untuk mendapat perawatan di RSUP M Djamil.

Kedua pasien tersebut masing-masing berinisal I (49), warga Jati, serta M (8,5), penduduk Alai, Kota Padang.

"Kondisi kedua orang pasien susfect flu burung saat dibawa ke Rumah Sakit M Jamil, diketahui mengalami demam tinggi dan tidak mau makan, namun tidak mengalami sesak napas sebagaimana umumnya penderita penyakit itu," kata Gustaviano.

Menurutnya, tim dokter rumah sakit masih melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap dua orang pasien yang baru saja masuk ke ruang perawatan khusus tersebut.

"Saat ini keduanya masih berada di ruang isolasi rumah sakit agar penyakitnya tidak menular ke pasien lain," katanya.

Pihak rumah sakit telah mengambil sampel darah dua orang pasien tersebut untuk memastikan apakah mereka benar positif atau sebaliknya negatif flu burung.

Sampel darah dikirim ke laboratorium yang ada di Jakarta untuk membuktikan pasien ini negatif atau positif flu burung. "Pihak rumah sakit masih menunggu hasil uji laboratotium darah pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes RI itu," kata Gustafianof.

Dari 19 orang pasien telah menjalani perawatan, 10 orang susfect flu burung masih berada di ruang isolasi rumah sakit.

"Sedangkan sembilan yang lain telah dibolehkan pulang sehubungan kondisi badannya sudah membaik, meski hasil rapid testnya positif flu burung," katanya.

Menurutnya, kondisi kesehatan 10 orang pasien susfect flu burung yang berada di ruang isolasi rumah sakit, berangsur-angsur mulai membaik.

"Pasien masih ditangani oleh dokter secara intensif sesuai prosedur penanganan pasien flu burung," katanya.

Untuk pasien yang baru, memang tidak ada gejala-gejala fisik khas sakit flu burung yang menyertainya, namun karena korban telah melakukan kontak dengan ayam yang mati mendadak, sesuai dengan prosedur akhirnya pasien diisolasi.

"Namun, pihak rumah sakit tetap tidak mengizinkan untuk pulang sebelum diperoleh kepastian mengenai penyebab penyakit yang mereka derita," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau