Purwakarta, Kompas -
Produksi singkong Purwakarta cenderung meningkat beberapa tahun ini, dan rata-rata mencapai 140.000 ton per tahun. Namun jumlah itu belum memenuhi kebutuhan bahan baku industri makanan olahan, terutama usaha tape yang jumlahnya 120 unit dan tersebar di sentra Sukatani, Jatiluhur, dan Tajursindang.
Muhamad (40), pembuat tape di Kampung Bendul, Desa Sukatani, Kecamatan Sukatani, Senin (14/3), menyatakan, harus berburu singkong hingga Cianjur dan Sukabumi bagian selatan, Cirebon, serta Subang. Ia melakukan itu, karena produksi di Purwakarta tak mencukupi. Dari 2,5 ton kebutuhan singkong usaha Muhamad per hari, rata-rata hanya terpenuhi 2 ton.
Produk tape asal Bendul dipasarkan ke warung dan kios penganan khas Jawa Barat di sepanjang jalur pantai utara Cikampek (Karawang) hingga Patrol (Indramayu). Sebagian pengusaha tape memasok kios-kios di jalur Purwakarta-Padalarang-Bandung serta pedagang di Bekasi dan Jakarta.
Selain tape, singkong juga menjadi bahan baku tepung aci, keripik, dan gorengan. Saat ini, harga singkong di kebun Rp 800 per kg, namun sebagian pelaku usaha berani membeli Rp 1.000-Rp 1.200 per kg.
Harga singkong eceran di pasar bahkan mencapai Rp 2.000-Rp 3.000 per kg. Menurut Sujoyo (42), Wakil Paguyuban Perajin Tempe Purwakarta, meski fluktuatif, harga singkong cenderung naik. Tahun 2008, harga singkong Rp 400-Rp 700 per kg. Saat ini rata-rata di atas Rp 2.000 per kg di tingkat eceran.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Purwakarta, Dedi Setyadi, menyebutkan, tahun 2010, luas panen singkong di Purwakarta 7.481 hektar. Dengan produktivitas 18,7 ton per hektar, produksi singkong mencapai 140.098 ton.