INDIAN WELLS, KOMPAS.com — Petenis Rusia, Maria Sharapova, mengaku khawatir krisis nuklir di Jepang akan berdampak seperti Chernobyl pada 1986.
"Ini gila dan kita tidak pernah menyangka dapat terjadi," kata Sharapova terkait krisis yang melanda Jepang. "Hal ini bisa terjadi dan melihat tayangan peliputan kejadian itu cukup mengerikan."
Jepang kini tengah terancam radiasi akibat meledaknya reaktor nuklir mereka. Sistem pengamanan reaktor nuklir tersebut tidak berfungsi akibat terhantam badai tsunami yang terjadi pada Jumat lalu.
Para ahli nuklir memperkirakan ada kemungkinan kebocoran dan radiasi, meski tidak separah Chernobyl pada 1986.
Ketika bencana Chernobyl terjadi, ibu Sharapova, Yelena, tengah mengandungnya. Yelena dan suaminya, Yuri, kemudian meninggalkan kota mereka, Gomel yang terletak 80 mil sebelah utara Chernobyl. Gomel merupakan satu wilayah yang terkena dampak radiasi akibat bocornya pusat nuklir di Chernobyl.
Sharapova kini bertugas sebagai duta kehormatan PBB untuk memperingatkan tentang bahaya terulangnya tragedi Chernobyl. "Meski sudah terjadi lama sekali, kejadian ini masih berdampak pada masyarakat di sana. Anak-anak yang lahir saat itu dan sekarang memiliki anak dengan kelainan tubuh sehingga mereka sulit hidup normal," kata Sharapova.
Sharapova pun membayangkan bila hal tersebut terjadi di Jepang. "Negeri ini memberi banyak kenangan buat saya. Saya bermain di sana saat masih muda. Jadi, saya sangat sedih bila mengingat budaya dan masyarakat di sana."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang