Cerita dari jepang

Fukushima bagai Kota Mati

Kompas.com - 15/03/2011, 23:27 WIB

KOMPAS.com — Neil Ikhsan (20) tak pernah menyangka pada Jumat (11/3/2011) lalu sebuah goncangan gempa tiba-tiba terjadi sedemikian kuatnya. Selama dua tahun ia tinggal di Jepang, tepatnya di Fukushima, gempa memang kerap kali terjadi, tetapi tak sebesar hari itu. Gedung-gedung bergetar hebat. Peralatan di perkantoran, rumah, ataupun di kampus-kampus berserakan. Semua orang hanya bisa berpikir untuk menyelamatkan diri masing-masing menuju ruang terbuka.

"Pas gempa ada alarmnya, tapi di sana gempa itu biasa. Goyang-goyang, tapi kenapa ini lama sekali tidak berhenti-henti," ungkap Neil, Selasa (15/3/2011) di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta.

Neil yang merupakan mahasiswa Fukushima Technology College menceritakan, saat itu warga Jepang berhamburan keluar rumah. Tak lama berselang, sebuah ledakan besar terjadi dari arah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

"Saya sedang kumpul dengan teman-teman, orang-orang sudah ramai ada nuklir yang meledak. Dari jauh saya lihat asap tebal hitam sudah ke atas, orang-orang panik takut terkena radiasi," ujarnya. Api yang membubung ke langit begitu hitam dan akhirnya semakin membesar.

Warga yang berada di wilayah yang sama dengan PLTN tersebut khawatir akan terkena dampak radiasi nuklir yang mampu menimbulkan penyakit kanker tersebut. "Dalam waktu singkat, kota itu langsung kayak kota mati, saya keluar rumah sudah tidak ada orang," ujar Neil.

Tak mau bernasib naas, Neil kemudian berusaha mengontak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo. Pihak KBRI di Tokyo menyarankan Neil ke rumah sakit terdekat untuk mengecek kondisi tubuhnya.

"Di sana saya ditanya macam-macam, ditanya soal self defense sampai akhirnya bisa pulang ke sini. Saya sempat khawatir kena radiasi, tapi akhirnya dinyatakan tidak kena. Sebelum berangkat dari Tokyo pun, Pemerintah Jepang mengecek kami lagi," ucap Neil.

Ia pun bersyukur dirinya bisa lolos dari jerat radiasi yang mematikan itu. Saat ini, pria asal Riau tersebut hanya bisa berharap dapat kembali ke Jepang dan menamatkan studinya di Negeri Sakura.

Neil merupakan satu dari 99 WNI yang berhasil dievakuasi tahap pertama dari Jepang oleh Kementerian Luar Negeri RI. Berdasarkan data, ada sekitar 31.517 WNI yang berada di Jepang. Sebagian besar dari mereka merupakan mahasiswa yang tengah menuntaskan studinya, dan beberapa merupakan pekerja sektor formal sebanyak 16.652 orang dan sektor jasa sebanyak 51 orang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau