Trauma teror

Paket Buku Diduga Bom Gegerkan Samarinda

Kompas.com - 16/03/2011, 02:15 WIB

SAMARINDA, KOMPAS.com — Sebuah paket kiriman berisi buku seberat 13 kilogram yang dicurigai sebagai bom menggegerkan warga Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (15/3/2011) malam.

Puluhan personel Brimob Polda Kaltim dan personel Polresta Samarinda yang tiba di lokasi pada Selasa sekitar pukul 21.00 Wita langsung meminta warga menjauh dari sebuah rumah yang diduga telah menerima paket kiriman buku yang dicurigai bom tersebut.    

Polisi juga terlihat langsung memasang police line di sebuah kompleks Perumahan Bukit Pinang Batara Indah, Kecamatan Samarinda Ulu, milik Meis Pribadi itu. Sementara beberapa personel tim Jihandak Gegana Brimob Polda Kaltim juga terlihat langsung melakukan proses penanganan bom dengan menggunakan baju antibom.

Dua personel tim Jihandak kemudian memasuki rumah Meis Pribadi dan tak berselang lama setelah mereka keluar, beberapa personel tim Gegana Brimob Polda Kaltim lainnya menarik sebuah paket yang dibungkus pada sebuah dus dengan plakban berwarna putih menggunakan tali.

Setelah berhasil mengevakuasi paket buku yang diduga bom itu hingga ke halaman rumah Meis Pribadi, personel tim Jihandak Brimob Polda Kaltim kemudian mengamankan paket tersebut ke dalam tong bom di mobil Gegana.

Proses evakuasi yang sempat berlangsung menegangkan dan disaksikan puluhan warga tersebut selesai setelah hampir satu jam.

Kasubden I Pelopor Detasemen B Brimob Polda Kaltim di Samarinda, Ajun Komisaris Sandy Sultan, mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah paket buku itu berisi bom atau tidak.

"Paket buku itu masih kami curigai sebagai bom dan setelah kami evakuasi akan kami bawa ke markas Brimob untuk diteliti," ungkap Sandy Sultan. Tim Gegana Brimob Polda Kaltim baru menerima laporan terkait adanya paket buku yang dicurigai bom tersebut pada Selasa malam.

"Setelah menerima informasi dari Kasat Reskrim Polresta Samarinda, kami langsung mendatangi lokasi dan melakukan prosedur penanganan teror bom," kata Kasubden I Pelopor Detasemen B Brimob Polda Kaltim itu.

Paket kiriman buku yang berasal dari Jakarta itu diterima oleh Bariyem, istri Meis Pribadi, pada Senin (14/3/2011) sekitar pukul 15.00 Wita.

"Paket buku itu diantar dua petugas dari sebuah jasa pengiriman kemarin (Senin) sore. Awalnya, saya kira hanya paket buku biasa, tetapi saya tidak berani membukanya karena nama pengirim dan tujuan tidak ada sehingga saya menduga paket buku itu bukan milik suami saya," ungkap Bariyem.

Namun, Bariyem dan Meis pribadi akhirnya melaporkan paket buku mencurigakan tersebut ke Polresta Samarinda pada Selasa petang, setelah mengetahui terjadinya ledakan bom pada sebuah paket buku di Jakarta.

"Awalnya, paket buku itu saya letakkan di ruang tamu. Namun, saat melihat ada ledakan bom paket buku di Jakarta, kami langsung ketakutan sehingga segera melaporkannya ke polisi," katanya.

"Alamat tujuan paket itu sesuai alamat rumah saya, tetapi pada paket buku itu hanya tertulis nomor telepon genggam suami saya dan tidak tercantum namanya. Begitu pula pengirim, hanya tertera sebuah nomor telepon di Jakarta," ungkap Bariyem.

Sementara Meis Pribadi mengaku tidak pernah memesan buku ataupun mengenal nomor telepon yang tertera pada paket kiriman buku yang dicurigai bom itu. "Saya tidak pernah memesan buku dari Jakarta sehingga paket kiriman itu bukan milik saya," ungkap Meis Pribadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau