BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com - Sejumlah warga Bandarlampung menilai drainase di pinggir jalan di kota itu buruk, dan mengharapkan pemerintah setempat untuk memperbaikinya.
"Drainase di sejumlah jalan Kota Bandarlampung lebih tinggi dari jalan. Akibatnya, ketika hujan deras air mengalir di jalan sehingga menggerusnya," kata Taufik R, warga Labuhanratu, Bandarlampung, Rabu (16/3/2011).
Ia mencontohkan, Jalan Nusantara cepat mengelupas karena selain kualitas pengerjaan kurang bagus, juga dipercepat dengan derasnya air.
Selain memperbaiki badan jalan, bahu jalan dan drainase harus diperhatikan, agar air dapat lancar menuju selokan. "Tapi, celakanya posisi selokan lebih tinggi dibandingkan jalan. Ini kendalanya," ujarnya.
Warga Labuhandalam, Bandarlampung Ardi mengatakan, pengerjaan selokan melalui proyek dari pemerintah setempat banyak yang tidak memperhatikan fungsinya.
"Fungsi selokan untuk mengalirkan air, yang salah satunya dari jalan. Tetapi pembuatannya lebih tinggi dari jalan," katanya.
Selain itu, pengerjaan selokan di tepi jalan pun terlihat asal-asalan dengan kualitas buruk.
"Coba lihat hampir di setiap proyek pemerintah kualitasnya buruk. Jangankan memperhatikan kerapihan, adukan semennya saja setelah kering diinjak bisa ambrol, apalagi kalau terkena roda mobil," ujarnya.
Karena itu, harus ada pihak yang memperhatikan pengerjaan sejumlah proyek di Kota Bandarlampung agar lebih berkualitas, tahan lama dan sesuai fungsinya.
Sementara itu, pantauan di Jalan Teuku Umar Bandarlampung, selokan di depan sejumlah ruko ditutup semen untuk akses kendaraan.
Akibatnya, ketika hujan air yang jatuh di pelataran pertokoan langsung mengalir ke jalan raya, dan terus menuju daerah lebih rendah seperti mengarah ke depan Makam Pahlawan sebelum berakhir di salah satu saluran air di sana.
Wali Kota Bandarlampung Herman HN sejak dilantik langsung melakukan aksi pembersihan sungai dan selokan, guna memperlancar arus air guna menghindari banjir dan menjaga kebersihan serta kesehatan.
Namun, menurut sejumlah warga, tidak diteruskan oleh satuan kerja di bawahnya atau masyarakat, sehingga program tersebut belum optimal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang