Menurut Direktur Utama RSCM Akmal Taher, operasi yang berlangsung sekitar dua jam itu untuk menyatukan kulit tangan kiri Dodi, sementara telapak tangan hingga pergelangan tangan sudah tidak ada lagi. Pemulihan diperkirakan memakan waktu satu hingga dua hari. ”Pasien sudah sadar dan bisa berkomunikasi,” katanya.
Direktur Pelayanan Medik RSCM Heriawan Soejono dan dokter bedah Dohar Tobing mengatakan, pasien datang dalam kondisi telapak tangan sudah tidak ada lagi. Tim dokter menangani penyatuan kulit sekaligus membersihkan luka-luka yang ada di wajah Dodi. Hingga Rabu (16/3), tinggal Dodi yang dirawat di rumah sakit.
Sementara itu, dari Bogor dilaporkan, hingga Rabu sore, kendati sudah menyisir 90 persen wilayah Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, petugas belum juga menemukan alamat Sulaiman Azhar di Jalan Bahagia, Gang Panser, Nomor 29, Ciomas, Bogor.
Menurut Camat Ciomas Muliadi dan Kepala Polsek Ciomas Komisaris Wijayanti, pihaknya masih berupaya mencari alamat tersebut. ”Kemarin ada nama Sulaiman Saidi yang kami temukan di salah satu desa di Ciomas, tetapi alamatnya bukan seperti di alamat itu (di paket bom buku). Kami memperkirakan tidak ada kaitan dengan nama Sulaiman Azhar. Orangnya juga sudah pindah,” tutur Wijayanti.
Berkaitan dengan kasus bom buku, menurut Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala, di Depok, Jawa Barat, anatomi organisasi yang melakukan teror tersebut adalah kelompok kecil yang posisinya sudah terdesak, baik pendanaan maupun jaringannya.
Hal itu bisa dilihat dari sasaran bom yang diarahkan kepada personal-personal, bukan kelompok atau organisasi.
Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso menilai motif pengiriman bom yang terjadi hari Selasa lalu dinilai kabur karena ditujukan kepada sejumlah tokoh secara personal. Meski demikian, dia mengharapkan kepolisian tetap mengusut tuntas upaya pengeboman karena sudah meresahkan masyarakat.
Sementara itu Kepolisian Daerah (Polda) Bali mengimbau agar pengelola hotel dan mal meningkatkan keamanan dan kewaspadaan pasca-ledakan bom di KBR 68 H, Utan Kayu, Jakarta, Selasa (15/3).
Namun, peningkatan keamanan di tempat-tempat keramaian diharapkan tidak mencolok agar tak menimbulkan keresahan masyarakat dan wisatawan di Pulau Dewata.
Menurut Kepala Bidang Humas Polda Bali Komisaris Besar Gede Sugianyar Dwi Putra, imbauan ini juga sebagai pengingat agar seluruh tenaga keamanan dan masyarakat tidak terlena. ”Kami berharap semua tetap waspada dan siaga, terutama jika ada teror-teror tak bertanggung jawab,” tuturnya, Rabu.
Kewaspadaan keamanan diperlukan mengingat Bali pernah dua kali diguncang ledakan bom di Kuta dan Jimbaran, Kabupaten Badung. Pada tahun 2002, bom meledak di Sari Club dan Paddys Pub Kuta yang menewaskan 202 orang dan 23 orang pada ledakan bom yang terjadi tahun 2005.