Perajin lokal

Tsunami Jepang dan Sepatu Lukis Manga

Kompas.com - 17/03/2011, 08:47 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Bermula dari hobi menggambar mengantarkan Angling Aditya Purbaya (20) menjadi salah satu pelukis sepatu terdepan di Semarang. Ia menekuni dunia lukis sepatu sejak awal tahun 2007 sebelum sepatu lukis menjadi tren saat ini.

Ditemui di rumahnya, kawasan Pedurungan Tengah, Semarang, Angling tengah menyelesaikan sepatu lukis bergambar kartun manga. "Sepatu lukis saya memang mengkhususkan diri bergaya manga. Sejak awal saya konsisten dengan pilihan itu," kata mahasiswa Sastra Jepang Universitas Diponegoro, Kamis (17/3/2011).

Pilihan manga atau kartun Jepang tentu saja menyasar segmen anak-anak. Apalagi serbuan komik Jepang sangat tinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Angling mengaku menerima pesanan gambar apa saja dan dibuat bergaya manga. Misalnya, ada yang ingin memesan lukisan potret diri, tetap digarap dengan sentuhan manga.

"Saya tertarik budaya Jepang sejak SMP. Mulai dari membaca komik-komik Jepang seperti Doraemon, Conan, hingga Kungfu Boy, Shoot dan masih banyak lagi. Akhir-akhir ini saja yang tertarik membaca sesuatu berbau Jepang yang tak bersentuhan dengan komik atau Manga," katanya.

Karena pembuatannya manual, dalam sehari ia hanya bisa menyelesaikan dua pasang sepatu pesanan. Namun, jika gambar yang dibuat tergolong sederhana seperti Doraemon atau Spongebob, bisa lebih dari dua pasang. "Harga pesanan termasuk murah untuk produk handmade. "Saya hanya mematok tarif Rp 125.000-Rp 175 ribu per pasang. Tapi belum termasuk ongkos kirim," imbuhnya.

Segmen pasar yang awalnya adalah teman-temannya sendiri lambat laun meluas. Dengan modal Rp 250.000, ia awalnya melayani pesanan tiga kawannya. Dengan ketekunannya, ditunjang dengan marketing online memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook, ia kini juga menerima pesanan dari Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Malaysia.

"Saya baru sekali dapat order dari Jepang. Itupun teman saya sendiri yang saat itu kuliah di sana," katanya.

Adanya Tsunami di Jepang bukan malah menurunkan omzetnya meskipun masih dari pasar dalam negeri. "Mungkin pembelinya ingin memiliki kenangan dengan peristiwa dahsyat itu," ungkapnya.

Omzetnya melonjak drastis pada tahun 2009. Permintaan yang tinggi mengharuskannya melibatkan kawan-kawannya yang bisa menggambar manga untuk dijadikan partner. Dibantu tiga kawannya, saat itu dalam sehari ia mampu menyelesaikan pesanan hingga delapan pasang.

Tahun 2011 ini, ia mulai merambah dunia batik sebagai obyek lukisannya. Namun, tetap konsisten dengan gaya manga. "Saya tertarik menjadikan motif batik Semarang sebagai salah satu obyek lukisan saya. Kebetulan di Semarang ada satu sanggar batik gaya Semarang yang sangat inovatif dalam mencipta motif," tutur Angling.

Dengan modal Rp 250.000 kini assetnya berkembang, dan ia masih bercita-cita bisa membuka counter sendiri dan merekrut karyawan. "Bisa membantu orang agar tidak menganggur, tapi belum tahu mau mencari bantuan modal ke mana," tutur Angling. 

Baca Juga: Picisan, "Dedemit Gunungkidul" Diprotes

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau