Serba Jamur di Rumah Jamur

Kompas.com - 17/03/2011, 09:05 WIB

Oleh: Yulia Sapthiani

JAMUR bisa diolah menjadi beragam masakan lezat. Tersebutlah jamur tiram goreng yang renyah, sate jamur berasa seperti daging ayam, sup jamur, sampai tongseng jamur.

Cicipi saja aneka masakan dari beragam jamur yang berada di Rumah Jamur, Lembang, Bandung. Anda yang sebelumnya tak pernah makan jamur bisa-bisa akan ketagihan setelah mencicipi masakan di tempat yang berlokasi di pinggir jalan menikung di Jalan Raya Lembang 155 ini. Dari pusat Kota Bandung, tempat ini berjarak tempuh kurang dari satu jam. Sementara dari Lembang, posisinya juga tak begitu jauh, hanya 15-30 menit.

Untuk yang tak terbiasa makan jamur, Anda bisa memulai dengan mencicipi jamur tiram goreng tepung sebagai pembuka. Ini merupakan salah satu menu favorit. Selain cocok disantap dengan nasi hangat, jamur tiram goreng juga bisa jadi camilan karena wujudnya seperti keripik yang terasa kriuk-kriuk gurih di lidah.

Tak hanya itu, tekstur jamur dalam balutan terigu terasa menyerupai suwiran daging ayam. Tak ada bau atau rasa hambar yang biasanya terasa pada jamur. ”Saya memakai jarum tiram coklat karena kandungan airnya lebih sedikit dibandingkan jarum tiram putih. Jadi bisa terasa renyah. Sedangkan jamur tiram putih saat digoreng menyerap minyak lebih banyak,” kata Rivaldy, pemilik Rumah Jamur.

Sate jamur dan shiitake

Jarum tiram putih tidak cocok untuk digoreng dengan balutan tepung. Akan tetapi, jamur jenis ini bisa terasa seperti daging ayam ketika diolah menjadi sate. Dalam satu porsinya, sate jamur disajikan dalam enam tusuk. Sate jamur tiram di Rumah Jamur berasa sedikit manis. Rasa ini didapat karena ada sentuhan bumbu sate ala Makassar. ”Saya berasal dari Makassar. Kalau di sana, sate dibumbui dulu dan terasa agak manis,” kata Rivaldy.

Bagi penyuka rasa manis, sate jamur shiitake juga bisa menjadi pilihan. Menu yang termasuk baru ini dibuat dari jamur shiitake segar sehingga tak alot dan berbau seperti halnya shiitake kering yang bisa kita temukan di pasar swalayan.

Shiitake segar juga dipakai dalam menu brokoli cah jamur shiitake. Tersaji dengan bumbu kental, seperti umumnya masakan China, rasa tumis shiitake dengan brokoli yang renyah ini cukup gurih.

Selain dibuat tumisan, digoreng dengan tepung, dan dibuat sate, beragam jamur diolah menjadi masakan seperti tongseng, lumpia, nasi bakar, pepes, dan sup. Rivaldy, yang bersama keluarganya sudah berbisnis katering di Jakarta selama 15 tahun, memang sengaja mengolah jamur menjadi menu yang sudah akrab di lidah. Selain jamur tiram dan shiitake, jenis jamur lain yang sudah diolah di Rumah Jamur di antaranya jamur kuping, jamur merang, dan jamur ling zhi. ”Ini saya lakukan untuk menghilangkan pendapat kalau jamur itu tidak enak karena rasanya yang hambar,” kata Rivaldy.

Dengan cara inilah, orang yang semula tidak pernah mencicipi jamur menjadi mengenal dan menyukai jamur. ”Waktu itu kami belum memiliki menu lain. Jadi, mau tidak mau, mereka pesan menu jamur. Beberapa hari kemudian, ternyata dia balik lagi, he-he-he,” ujar Rivaldy.

Menu vegetarian

Beragam menu jamur menjadi pilihan bagi para vegetarian meski Rumah Jamur dibuat tidak khusus untuk mereka. Rivaldy bercerita, restorannya sering dikunjungi para vegetarian dengan jenis pantangan yang berbeda-beda.

”Dari pengalaman saya memasak untuk vegetarian, ada yang minta dibuatkan masakan tanpa telur, ada juga yang tidak mau memakai bawang. Semuanya bisa dilayani sesuai pesanan,” tutur Rivaldy.

Meski Rivaldy dan keluarganya tinggal di Kemayoran, Jakarta, dia memilih Lembang sebagai tempat membuka restoran pada tahun 2009. Selain menjadi tempat tujuan wisata, Lembang dipilih karena wilayah ini sudah menjadi tempat produksi jamur. Beberapa jenis jamur, terutama jamur- jamur yang cocok tumbuh di hawa dingin, seperti shiitake dan tiram, dibeli Rivaldy dari Cikole. Dengan demikian, Rivaldy bisa mendapatkan jamur untuk restorannya dalam keadaan segar.

Beberapa jenis jamur yang tak bisa tumbuh di Lembang didapat dari tempat lain, seperti jamur merang yang habitat tumbuhnya di tempat berhawa panas. Ada pula jamur enoki, jamur kecil yang tumbuhnya berumpun seperti rumput, yang masih harus diimpor dari Korea.

”Untuk ke depan, saya ingin tempat saya ini bisa mengolah lebih banyak jenis jamur karena jamur adalah makanan yang sehat,” kata Rivaldy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau