REJANGLEBONG, KOMPAS.com - Penjualan kayu bakar di Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu, dalam sebulan ini mengalami peningkatan menyusul penarikan minyak tanah bersubsidi di daerah itu.
"Tingkat penjualan dalam sebulan ini mengalami peningkatan dari hari biasanya, karena saat ini minyak tanah sudah sulit di dapatkan kalau pun ada harga juga sudah mahal," kata Kasno (50) pedagang kayu Bakar di Desa Suban Ayam, Kecamatan Curup Timur, Jumat (18/3/2011).
Naiknya omset penjualan kayu bakar ini, sejak adanya pemberlakukan program konversi minyak tanah ke gas. Warga yang sebelumnya memakai minyak tanah belum berani menggunakan kompor gas yang dibagikan pemerintah itu dan banyak yang memilih menggunakan kayu bakar untuk memasak.
Dalam seharinya Kasno mengaku mampu menjual kayu bakar yang kebanyakan jenis kayu kopi dan kayu lainnya itu hingga 20 karung, harga kayu bakar ini Rp 12.000 per karung, naik Rp 2.000.
Pembeli kayu bakar ini selain datang dari warga sedesa dengannya juga ada pembeli dari wilayah Kota Curup terutama pedagang bakso serta usaha lainnya.
Nurma (36) pedagang bakso dikawasan pekantoran Pemkab Rejanglebong, setiap hari menghabiskan kayu bakar setengah hingga satu karung. Kayu bakar ini dia beli diwarung seharga Rp 13.000.
"Kompor pembagian dari pemerintah belum berani menggunakannya pak, karena lihat di tv banyak yang meledak kami jadi takut menggunakannya. Untuk sementara ini terpaksa pakai kayu bakar dulu," katanya.
Kayu bakar ini banyak digunakan warga dan menjadi alternatif menyusul ditariknya peredaran minyak tanah bersubsidi yang saat ini harga jualnya mencapai Rp 9.000/liter.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang