Christmas

Frustrasi Imigran Picu Kerusuhan

Kompas.com - 18/03/2011, 19:47 WIB

KOMPAS.com - Menanti lama adalah perbuatan yang memang menyebalkan. Berangkat dari situlah, para peminta suaka ke Australia yang ada di penampungan di Pulau Christmas pun frustrasi. Alhasil, sejak tiga hari ke belakang, sebagaimana warta AP dan AFP pada Jumat (18/3/2011), aksi unjuk rasa pun merebak. Kerusuhan pun mengemuka.

Polisi Australia menembakkan gas air mata untuk meredakan aksi demonstrasi.  Polisi diterbangkan dari kota terdekat Kamis (17/3/2011) malam setelah lebih dari 200 tahanan membakar bangunan, menghancurkan perabot, dan melempari petugas keamanan Australia.

Proses permohonan memang berliku. Kendati begitu, Menteri Luar Negeri Australia Kevin Rudd mengatakan tidak akan ada pengecualian aturan.

Di Pulau Christmas, yang terletak di Samudera Hindia, terdapat sekitar 2.000 orang imigran. Dari jumlah itu, sebagian besar berasal dari Timur Tengah, Sri Lanka, dan Afganistan yang mencoba memasuki Australia.

Menurut laporan dua bangunan administrasi beserta tujuh tenda akomodasi yang disediakan dibakar para pencari suaka.

Deputi Komisioner Polisi Federal Australia Steve Lancaster mengatakan bahwa sudah sekitar sepekan para pencari suaka menggelar aksi demo karena kesal pada lambatnya proses aplikasi suaka. "Sekelompok kecil tahanan mengisyaratkan bahwa akan terus melakukan aksi kekerasan hingga visa diberikan,"kata Bowen.

Pemerintah merespon aksi tersebut dengan mempercepat rencana pemindahan sekitar 2.500 tahanan di Pulau Christmas ke pusat penampungan di daratan Australia untuk mengurangi kepadatan tahanan serta dengan melibatkan petugas polisi. "Ini situasi yang sangat rawan dan serius," kata Bowen.

Komisioner HAM Australia Catherine Branson mengaku khawatir terhadap penundaan proses aplikasi suaka sehingga sebagian besar dari sekitar 6.500 pencari suaka menunggu hingga lebih dari enam bulan.

Ribuan pencari suaka mempertaruhkan nyawa mereka dengan berlayar di laut lepas tanpa peralatan yang layak demi mencapai Australia setiap tahun. Sebagian pencari suaka tewas dalam perjalanan akibat keganasan gelombang di Samudera Hindia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau