Jakarta, Kompas -
”Kalau pengirim paket itu jelas, tidak perlu lapor polisi,” kata Sutarman, Sabtu (19/3).
Apabila sudah dilaporkan kepada polisi, paket itu langsung dihadapi dengan prosedur operasi standar penanganan paket mencurigakan. Langkah itu termasuk dengan meledakkan barang yang diduga bom. ”Kami tidak mau mengambil risiko. Kalau barang dicurigai, kami meledakkan barang itu,” ujarnya.
Saat ditangani tim Gegana, barang yang dicurigai itu diperiksa kemasannya dan dicek dengan metal detector. Sementara untuk mengecek keberadaan bahan peledak, Polda Metro Jaya belum memiliki alat pendeteksinya.
Pendeteksi bahan peledak ini, menurut Sutarman, menggunakan komputer yang dilengkapi dengan program tertentu yang khusus. Apabila komputer diprogram untuk mendeteksi bahan peledak tipe A, misalnya, bahan peledak selain tipe A tetap saja tak terdeteksi.
Di wilayah Polda Metro Jaya, Sutarman mengatakan, setelah temuan empat bom yang mengandung bahan peledak, belum ada lagi laporan paket yang berbahan peledak. Semua temuan diledakkan karena polisi tidak mau mengambil risiko.
Tentang peledakan paket mencurigakan ini, Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar yang dihubungi di Jakarta, Sabtu, mengatakan, penanganan paket mencurigakan sudah sesuai dengan prosedur.
”Itu memang tugas tim penjinak bahan peledak satuan Brimob. Tindakan itu untuk memperkecil risiko sebagai langkah penanganan sesuai prosedur demi keselamatan,” kata Boy.
Menurut Boy, kewaspadaan masyarakat adalah tindakan positif. Sebaliknya, polisi juga membuka pelayanan terhadap setiap pengaduan adanya benda mencurigakan.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Baharudin Djafar dalam siaran pers yang diterima Kompas, Sabtu petang, menyebutkan, pengaduan barang yang diduga bom ke Polda Metro Jaya bisa ditujukan kepada Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya telepon 021-5234313 dan petugas piket Bidang Humas Polda Metro Jaya telepon 021-5234017.
Sepanjang Sabtu kemarin di Jakarta, ada tiga paket yang dilaporkan sebagai paket mencurigakan, yakni di Cempaka Putih, Jakarta Pusat; Pasar Minggu, Jakarta Selatan; dan di depan Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan. Ketiga paket itu lantas diledakkan tim Gegana.
Selain itu, di Tangerang Selatan, Banten, pihak Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Ciputat sempat melaporkan paket mencurigakan yang ditujukan untuk Rektor UMJ. Setelah diteliti, paket itu bukan bom.
Selain di Jakarta, kepolisian di di Bandung, Makassar, Medan, dan Yogyakarta juga menerima pengaduan adanya paket mencurigakan. Paket mencurigakan di empat wilayah tersebut kemudian diledakkan tim Gegana.
Di Yogyakarta, tim Gegana Brimob Polda DI Yogyakarta meledakkan sebuah bungkusan mencurigakan di depan teras sebuah warung di Pandes, Sewon, Bantul. Setelah diledakkan, ternyata isi bungkusan itu adalah alat pemanas nasi atau magic jar dan potongan kain batik lusuh warna merah.
Di Bandung, benda yang diduga bom ditemukan di pos pengatur lalu lintas Simpang Lima, Sabtu pukul 08.00, oleh petugas kepolisian. Penemuan tersebut langsung dilaporkan kepada tim Satuan Gegana Polda Jawa Barat.
Paket yang mencurigakan di Makassar dan Bandung juga diledakkan. Setelah diledakkan, paket di Makassar baru diketahui isinya ternyata kaleng cat plastik. Sementara paket di Medan ternyata berisi kabel dan tempat lampu untuk hiasan pohon natal.(FRO/ART/PIN/ONG/ACI/ABK/ELD/SIN/MHF)