Nelvi dan zulkifli

Pejuang Songket dari Padang

Kompas.com - 21/03/2011, 02:39 WIB

INGKI RINALDI

Pasangan Nelvi dan Zulkifli adalah wirausaha mandiri yang tumbuh dari bawah tanpa gemerlap fasilitas apa pun dari pemerintah atau kredit industri perbankan. Setelah berhasil, keduanya berbagi resep kesuksesan, bahkan modal, untuk mencetak sejumlah pengusaha mandiri baru. 

Zulkifli kerap memberikan ceramah kewirausahaan, memotivasi orang untuk berusaha secara mandiri. Nelvi pun tak jarang menyambangi komunitas wirausaha baru di sejumlah kabupaten di Sumatera Barat.

”Tak ada jalan instan dalam berwirausaha,” kata Nelvi.

Semua itu dilakukan pasangan ini nyaris dalam ”diam”. Nelvi sering disangka pegawai toko oleh pelanggan yang hendak membeli kain tenun songket produksinya.

”Kadang saya ditanya, sudah berapa tahun kerja di sini? Ya, saya jawab saja, baru dua bulan,” selorohnya.

Selain tak sungkan membeberkan segala ihwal soal bisnis, mereka dengan senang hati juga menjadi ”rahim” bagi lahirnya wirausaha baru. Dengan modal belasan juta rupiah yang mereka gulirkan, mereka telah melahirkan sejumlah pengusaha baru yang mandiri.

Menurut Zulkifli, relatif sulitnya menumbuhkan wirausaha baru setidaknya disebabkan tak ada informasi yang memadai dari pemerintah soal peluang usaha. Selain itu, keinginan cepat kaya cenderung menjadi penyakit bagi sebagian wirausaha pemula.

”Untuk sukses dalam wirausaha setidaknya butuh waktu puluhan tahun,” kata Zulkifli.

Nelvi mengenang masa puluhan tahun lalu saat memulai usaha di bidang pembuatan dan penjualan tenun songket, bordir, dan beragam penganan khas Minang. Sama seperti banyak saudara dan teman sebayanya, anak kedua dari lima bersaudara asal Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, ini sejak kecil akrab dengan tenun songket.

Nagari Pandai Sikek tempatnya berasal adalah salah satu penghasil tenun songket di Sumbar selain Nagari Silungkang Duo, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, yang diketahui menjadi muasal penyebaran industri kecil penghasil tenun songket.

Dulu, barang dagangannya kerap ditolak sejumlah toko di Kota Padang. Ia mengibaratkan, tantangan itu seperti cemeti yang melecutnya untuk semakin maju.

”Banyak orang tak sabar dengan penolakan seperti itu. Namun, dalam berusaha, justru cobaan itu membuat kita lebih kuat,” ujar Nelvi.

Kejelian

Sejak kuliah pada Jurusan Kimia IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang) tahun 1989, Nelvi sudah memulai usahanya. Ia menawarkan produksi tenun dari kampungnya ke sejumlah toko di Kota Padang. Ia juga mendesain beberapa motif tenun yang diproduksi di Nagari Pandai Sikek.

Kreativitas dan kejelian dalam inovasi menjadi kata kunci lain bagi Nelvi selain kesabaran dan keuletan. Selain songket, ia juga memproduksi aksesori, seperti dompet dan gantungan kunci. Awalnya, bahan untuk produk sampingan itu ia ambil dari songket yang tak terpakai.

Tahun 1992, dia berhasil meyakinkan semua toko di Kota Padang. Bahkan, produknya mampu menembus gerai di bandara.

Tahun 1994, Nelvi lulus kuliah. Namun, karena sakit, dia tak lulus tes wawancara menjadi pegawai negeri sipil di Departemen Agama. Sejak itulah, Nelvi yang semula ingin menjadi guru semakin menekuni usahanya. Dia terus melakukan ekspansi, terutama setelah bertemu Zulkifli, pemilik toko yang lalu mempersuntingnya pada 1997.

Agak berbeda dengan Nelvi, Zulkifli mulai berwirausaha tahun 1978 dengan mengelola toko yang membeli kain tenun songket. ”Dulu ada toko-toko lain yang menolak songketnya (Nelvi). Kalau saya, saya bilang bagus terus dan saya beli,” seloroh Zulkifli.

Zulkifli menyebut keterlibatannya di dunia wirausaha sebagai peristiwa ”tersesat ke jalan yang benar”. Lelaki pemegang gelar magister manajemen dari Universitas Negeri Padang ini sempat menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Padang (1985-1987).

”Sekarang saya ingin melanjutkan lagi ke jenjang S-3,” kata Zulkifli yang menolak diambil foto dirinya.

Ia menekankan, salah satu sifat yang juga mesti dimiliki wirausaha—selain kesabaran dan daya tahan tinggi—adalah keinginan untuk terus belajar. Di samping itu, mesti jelas tujuan dan fokusnya.

”Seperti naik taksi, kalau tidak ada tujuan, mana mau sopir taksi membawa kita, kan?” katanya.

Skala bisnis keduanya makin membesar dengan merambah bisnis penganan khas Minangkabau. Sistem bagi hasil yang adil diupayakan pasangan pengusaha ini dengan terlebih dulu membeli semua produk yang ada.

Seleksi pasar yang kemudian menentukan produk mana yang layak diteruskan untuk dijual dan produk mana yang harus menyingkir. Namun, untuk produk yang belum layak, mereka tetap berkenan memberikan masukan agar menjadi lebih baik.

”Dulu, awalnya toko saya hanya berukuran 4 meter x 8 meter (32 meter persegi), sekarang menjadi 250 meter persegi,” tutur Zulkifli.

Tahun 2000, mereka membuka sebuah tempat usaha baru di kawasan Sei Beremas, Kota Padang. Sejumlah karyawan Pertamina yang kerap mampir di toko barunya itu lantas menawari mereka program binaan kewirausahaan.

Kini, mereka mengelola 3 tempat usaha di Kota Padang, 2 tempat usaha di Nagari Pandai Sikek, dan 1 tempat usaha di Kota Bukittinggi. Kejelian memanfaatkan peluang pasar dan menunda kesenangan adalah modal mereka berdua untuk bertahan dalam masa-masa sulit.

Saat industri pariwisata Sumbar dihajar gempa bumi pada 30 September 2009, misalnya, omzet bulanan pada salah satu toko mereka di Kota Padang menurun drastis, dari sekitar Rp 300 juta menjadi hanya sekitar Rp 150 juta per bulan.

”Banyak pedagang yang mengeluh pendapatannya sekarang turun. Bagi kami, itu biasa saja dalam bisnis karena ada pasang surutnya,” ujar Zulkifli.

Rahasia mereka bisa relatif mudah melewati masa-masa sulit ialah menerapkan pola hidup sederhana dan hanya mengonsumsi barang-barang yang benar-benar diperlukan. Silaturahim juga menjadi kunci sukses lain. Tanpa sungkan mereka turun langsung membantu membersihkan sekolah yang tak jauh dari tempat tinggal mereka sekarang.

Nelvi

• Lahir: Pandai Sikek, Sumatera Barat, 25 Juni 1970 • Pendidikan: - SDN Pandai Sikek, Sumbar - MTsN Koto Baru, Sumbar - SMAN Padang Panjang, Sumbar - IKIP Padang

Zulkifli

• Lahir: Padang, Sumatera Barat, 16 Maret 1960 • Pendidikan: - SD Adabiah, Padang - SMP Adabiah, Padang - SMAN 1, Padang - Jurusan Sastra Inggris, IKIP Padang, tak tamat - Ekonomi, Universitas Andalas, Padang, tak tamat - Antropologi, Universitas Andalas, Padang, lulus 1988 - Magister Manajemen, Universitas Negeri Padang, lulus 2006

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau