Kompleks khadafy

Diperlihatkan Kompleks Terkena Rudal

Kompas.com - 21/03/2011, 13:51 WIB

TRIPOLI, KOMPAS.com - Dalam suatu kesempatan langka berkunjung ke basis kekuatan rahasia Moammar Khadafy, pejabat Libya membawa wartawan asing ke dalam kompleks yang dijaga ketat itu, Senin (21/3/2011), untuk menunjukkan sebuah gedung yang kata mereka hancur akibat serangan rudal sekutu. Berjalan kaki sebentar dari sebuah tenda mencolok di mana Khadafy biasa menerima tamu-tamunya, terdapat bangunan tiga lantai yang runtuh, dan lubang bulat terlihat pada bagian depannya.

Para wartawan Reuters di Tripoli melaporkan, mereka mendengar ledakan pada malam hari sebelumnya dan melihat asap membubung dari arah kompleks Khadafy yang luas, yang menjadi tempat bagi rumah-rumah pribadinya serta barak militer dan instalasi lainnya. Namun, tidak ada asap yang mengepul dari gedung yang ditunjukkan itu pada Senin pagi, meskipun puing-puing dan lempengan beton berserakan.

Para pejabat mengatakan, bagunan tersebut terkena rudal pada Minggu malam dan menuduh kekuatan Barat berusaha untuk membunuh Khadafy.  "Itu pemboman barbar," kata juru bicara pemerintah, Mussa Ibrahim, yang menunjukkan serpihan pecahan peluru yang katanya berasal dari rudal. "Ini bertentangan dengan pernyataan Amerika dan Barat ... bahwa tempat ini bukan target serangan mereka."

Ibrahim mengatakan, tidak ada orang yang terluka dalam serangan itu. Dia menolak untuk mengatakan apakah Khadafy masih berada di dalam kompleks tersebut.

Amerika Serikat mengatakan, Khadafy tidak berada dalam daftar sasaran saat negara-negara Barat mengintensifkan aksi militer di Libya, di mana pemimpin veteran itu telah berjuang selama satu bulan untuk menghancurkan pemberontakan terhadap pemerintahannya.

Di dekat kompleks, banyak loyalis Khadafy, yang diizinkan masuk kompleks sebagai perisai manusia terhadap kemungkinan serangan udara. Mereka meneriakkan slogan anti-Barat, termasuk "Obama harus dipenggal". Di dalam kompleks, seorang prajurit tampak mengoperasikan senjata anti-pesawat terbang yang dipasang di sebuah truk pick-up dan sedang memperhatikan langit dengan saksama.

Tentara dan milisi berkumpul di sepanjang kompleks besar berdinding hijau tersebut, beberapa menari dan menunjukkan tanda-tanda "V", simbol kemenangan. Orang-orang menari dan lagu-lagu patriotik menggelegar dari pengeras suara di luar rumah yang hancur dalam pemboman tahun 1986 terhadap kompkes itu oleh jet tempur AS. Rumah yang hancur sengaja dibiarkan sebagai sebuah situs simbolik anti-Barat bagi pendukung Khadafy.

Beberapa orang, termasuk perempuan yang menggendong bayi, duduk di kasur yang digelar di atas rumput dan siap untuk berkemah hingga malam. Salah satu dari anak-anak itu memegang senapan mainan dengan laras berkedip. Banyak dari mereka mengatakan, mereka siap mati demi Khadafy. "Saya mencintai Khadafy. Dia ayah kami. Saya akan mati baginya," kata Muatas, insinyur 45 tahun, saat ia melambaikan bendera hijau Libya. "Saya tidak takut, bahkan jika sebuah roket jatuh dari langit saat ini."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau