Jamu Tradisional Bakal Jadi Obat Dokter?

Kompas.com - 21/03/2011, 16:32 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Jamu atau obat tradisional diwacanakan masuk daftar obat dalam praktik kedokteran.

"Masalah ini sudah dibahas di rapat kerja kesehatan nasional di Batam beberapa waktu lalu. Namun semuanya masih dalam tahap wacana," ujar Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr Dodo Anondo MPH, di Surabaya, Senin (21/3/2011).

Meski Kementerian Kesehatan RI sudah menggulirkannya sejak tahun 2010, namun belum bisa dipastikan kapan jamu menjadi obat dokter terealisasi.

Menurut dia, masih banyak hal yang harus dilakukan sebelum menetapkan jamu sebagai obat dokter. Salah satunya penelitian oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI terkait kandungan dan manfaat jamu yang ada di Indonesia.

Selain itu, perlu kiranya mengatur regulasi yang dibutuhkan untuk penggunaan dan peredaran jamu sebagai obat praktik kedokteran. "Mengenai hal ini, cukup Dinas Kesehatan masing-masing provinsi yang regulasi pemakaian jamu maupun produksinya," kata Dodo.

Sementara itu, poli obat tradisional yang ada di rumah sakit maupun puskesmas juga perlu memiliki payung hukum dalam menjalankan praktiknya.

Payung hukum ini akan diatur oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai lembaga yang menaungi rumah sakit dan puskesmas di Indonesia.

Dodo mengatakan, wacana pemakaian jamu sebagai obat praktik kedokteran digulirkan karena pemerintah ingin jamu tradisional menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Apalagi Indonesia tidak hanya kaya berbagai ramuan obat tradisional. Tapi juga tanaman yang berguna sebagai obat. "Nantinya, pemakaian jamu tradisional sebagai obat praktik kedokteran bisa diterapkan di rumah sakit milik pemerintah maupun swasta," kata Dodo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau