Buka jalur transportasi

Sungai Batanghari Dikeruk

Kompas.com - 21/03/2011, 16:57 WIB

JAMBI, KOMPAS.com — Gubernur Jambi Hasan Basri Agus ingin menghidupkan kembali transportasi air dengan mengeruk Sungai Batanghari. Namun, pelaku industri menilai biaya yang dikeluarkan pengusaha akan lebih besar apabila distribusi hasil produksi dilakukan melalui jalur air.

Hasan mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Synco Global, perusahaan dari India, untuk mulai mengeruk Sungai Batanghari pada pertengahan tahun ini. Synco Global selaku perantara diperkirakan akan melibatkan sebuah perusahaan lagi dari Malaysia untuk melaksanakan kegiatan pengerukan mulai dari Muara Tembesi di Kabupaten Batanghari hingga ke Nipah Panjang di wilayah pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Jika selesai, Synco, yang juga memiliki usaha tambang batu bara di Kabupaten Sarolangun, dapat mengangkut hasil tambangnya melalui jalur air. Perusahaan ini juga dapat mengelola layanan distribusi barang bagi para pengguna jasa ini. Hasil yang diperoleh akan dibagi dengan Pemprov Jambi selama 20 tahun.

Melalui upaya ini, lanjut Hasan, pihaknya ingin menghidupkan kembali transportasi air yang pernah berjaya di masa lalu, dimana seiring maraknya perusakan hutan di sepanjang daerah aliran sungai, sedimentasi mendangkalkan Sungai Batanghari. ”Saya masih ingat di tahun 1970-an, kapal-kapal tongkang berkapasitas hingga 40 ton hilir mudik di sepanjang sungai,” ujarnya, Senin (21/3/2011).

Adapun pengerukan tidak dilakukan pada sepanjang sungai,  diperkirakan pada 80 titik yang mengalami sedimentasi parah, terutama pada kawasan Nipah Panjang di Tanjung Jabung Timur hingga pelabuhan yang akan dibangun di Kecamatan Sadu.

Biaya investasi pengerukan dan pembangunan pelabuhan akan mencapai Rp 4,5 triliun. Akan tetapi, lanjut Hasan, Pemprov tidak mengeluarkan dana sedikit pun. ”Semua ditanggung pengusaha, namun kita akan mendapatkan bagi hasilnya apabila nanti telah beroperasi,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Batu Bara Provinsi Jambi Danil menilai rencana pengerukan Sungai Batanghari untuk tujuan mempermudah distribusi barang, khususnya batu bara, tidak efektif dan efisien.

Ia melanjutkan, pengangkutan batu bara lewat jalur darat jauh berbiaya lebih rendah dan memakan waktu tempuh lebih pendek ketimbang melalui jalur air. Pengangkutan batu bara melalui Sungai Batanghari dari Muara Tembesi ke Kota Jambi akan membutuhkan waktu 38 jam, sedangkan melalui jalur darat hanya 6 hingga 10 jam. Ongkos distribusi melalui jalur air juga lebih mahal 35 persen hingga 40 persen dibanding melalui darat.

Menurut Danil, pemerintah lebih baik memperbaiki jalan darat yang menjadi jalur distribusi barang. Pasalnya, selama ini distribusi justru kerap terkendala oleh hancurnya jalan.

Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Jambi Yanuar Fitri mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati melaksanakan pengerukan Sungai Batanghari. Kegiatan tersebut harus melalui analisis dampak lingkungan yang menyeluruh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau