Ternyata Benar, Kontrak Yamaha Tangerang Dimatikan

Kompas.com - 21/03/2011, 17:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Dealer Yamaha di Perumahan Wisma Harapan, Jati Uwung, Tangerang, digerebek polisi terkait temuan 40 kilogram sabu dan 40.000 butir tablet Happy Five. Peristiwa dealer sepeda motor menyimpan "barang haram" ini boleh jadi merupakan yang pertama. PT Yamaha Motor Kencana Indonesia selaku agen tunggal pemegang merek Yamaha siap mengambil tindakan tegas.

Paulus Sugih Firmanto, General Manager Promotion and Motorsport Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) mengatakan, sampai kini ATPM masih menunggu kepastian dari pihak kepolisian terkait kasus tersebut. "Jika memang terbukti terlibat pidana, kontrak pasti akan kami matikan," ucap Paulus saat dihubungi Kompas.com, hari ini (21/3/2011).

Secara garis besar, Paulus menjelaskan, bisnis dealer Yamaha di Jalan Lantana Raya, Perumahan Wisma Harapan, Tangerang, itu terbilang cukup baik. Untuk itu, YMKI menurutnya tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan jika sudah ada informasi pasti dari pihak berwenang.

Kasus ini menjadi pelajaran bagi dealer Yamaha lainnya. Ada tiga pemicu utama yang menyebabkan ATPM melakukan pemutusan hubungan sepihak terhadap dealer-nya. "Pertama, jika bisnis tak berjalan dengan baik. Kedua, menyalahi kontrak menjual merek lain. Ketiga, terkait tindak pidana," tutup Paulus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau