Perkosaan

15 Tahun, Gadis Ini Dimesumi Ayahnya

Kompas.com - 21/03/2011, 21:58 WIB

KARIMUN, KOMPAS.com - Seorang pria warga Kelurahan Teluk Uma, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, JA, ditangkap polisi karena diduga memperkosa dan mencabuli anak sendiri, sebut saja M (23) sejak berumur delapan tahun.

Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Tebing Ipda Edward di Mapolsek Tebing, mengatakan, JA ditangkap di kawasan Puakang, Tanjung Balai Karimun, Senin (21/3/2011) pukul 10.00 WIB.

"JA kami tangkap setelah kami menerima laporan dari Nur, istri tersangka yang juga ibu kandung korban,” katanya.

Menurut Edward, tersangka JA diduga telah berbuat cabul dan berkali-kali memperkosa anak sulungnya, M sejak masih berumur delapan tahun.

Dia mengatakan, tersangka yang berprofesi sebagai nelayan berbuat cabul dengan cara meraba alat kelamin korban, terakhir tersangka memperkosa korban saat berusia 18 tahun.

"Berdasarkan keterangan korban, tersangka menggauli korban terakhir pada 12 Maret 2011. Tersangka mengancam korban jika perbuatannya diberitahukan kepada orang lain,” katanya.

Tersangka, dijerat dengan Pasal 285 KUHPidana jo Pasal 81 Undang-undang No 23/2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun penjara.

"Saat ini kami masih memeriksa korban, saksi-saksi dan tersangka," katanya menambahkan.

Di tempat yang sama, korban M mengatakan, tersangka kerap menggauli dirinya pada dinihari pukul 04.00 WIB saat pulang menangkap ikan.

"Saat itu, ibu tidak di rumah karena sedang bekerja di tempat pembuatan bakso. Yang saya ingat, bapak menggauli sebanyak lima kali, yaitu pada 5, 10 dan 12 Maret 2011," tuturnya.

Dalam melakukan aksinya, tersangka selalu mengancam akan membunuh atau mengusir dirinya jika perbuatan tersebut dilaporkan pada ibunya.

"Kalau saya sampaikan pada ibu, bapak bilang sama saja saya menghancurkan rumah tangganya. Bapak menyuruh saya meminum obat peluntur atau pelancar haid merek Tuntas dan Kintamani agar tidak hamil. Obat tersebut belum saya minum dan sekarang saya terlambat haid selama 18 hari," ucapnya.

Perbuatan tersangka terungkap setelah ibu korban menemukan obat tersebut yang disembunyikan di bawah ranjang korban.

"Semula saya menyangka obat tersebut punya adik Mawar yang sudah menikah, belakangan baru saya tahu kalau obat tersebut dibeli bapaknya untuk mencegah kehamilan," kata Nur, ibu korban.

Nur berharap JA dihukum seberat-beratnya untuk contoh bagi bapak-bapak yang lain agar tidak tega menghancurkan masa depan anak sendiri. "Saya ikhlas dia dihukum seberat-beratnya," katanya.

Sementara, tersangka JA ketika ditemui mengakui perbuatannya. JA mengaku khilaf dan terlanjur menggauli anaknya tersebut.

"Waktu dia kecil hanya meraba saja, sedangkan hubungan intim sejak SMP. Saya tidak ingat berapa kali, yang jelas sudah berkali-kali. Tapi saya tidak mengancam bunuh, melainkan hanya mengatakan kalau mengadu pada ibunya, maka rumah tangga saya hancur," ucapnya.

JA juga mengaku membelikan obat pelancar haid agar anaknya tidak hamil. "Saya menyesal karena telah menghancurkan masa depan anak sendiri. Dan saya juga siap dihukum," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau