JEMBER, KOMPAS.com — Banjir bandang yang menerjang sejumlah dam pembagi air di tiga kecamatan, Kecamatan Panti, Kecamatan Rambipuji dan Kecamatan Arjasa di Jember, Jawa Timur, berpotensi menimbulkan kekeringan bagi 4.500 hektar sawah. Untuk itu, menjelang tanam padi gadu atau musim kemarau pertama, petani pemilik sawah di areal itu dianjurkan supaya tidak menanam padi.
Jika petani memaksa tanam padi, dikhawatirkan kemarau tiba dan lahan pertanian kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan tanaman padi. Untuk itu, petani dianjurkan supaya menanam palawija yang tidak terlalu banyak butuh air.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Jember Rasyid Zakaria kepada pers di Jember, Senin (21/3/2011). "Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan kemarau akan berlangsung akhir April atau awal Mei," kata Rasyid Zakaria.
Bila saat ini petani sudah menyemai banih padi, maka saat musim tanam nanti sudah kemarau. Jadi sudah kesulitan mendapat air. Jika masih memaksa tanam padi, maka kelompok tani dan himpunan petani pemakai air harus gotong royong mencari alternatif agar air bisa naik dan mengalir ke sawah. Banjir bandang menyebabkan enam unit dam pembagi air di tiga kecamatan rusak.
"Kami hanya bisa memperbaiki dua unit dam, Dam Getuk dan Dam Waru di Dusun Cempaka, Desa Pakis, Kecamatan Panti. Jika dua dam selesai dan berfungsi dengan baik, maka bisa menyelamatkan lahan pertanian seluas 300 hektar dari kekeringan," ujar Rasyid Zakaria.
Ia berharap ada dana dari APBN sebab dana tak diduga sudah tinggal Rp 2 miliar dari Rp 5 miliar yang dianggarkan di awal tahun. Jika dihabiskan khawatir menjelang musim hujan akhir tahun butuh dana lebih banyak lagi.
Makruf, Ketua Kelompok Tani di Dusun Kemundungan, Desa Pakis, Kecamatan Panti, mengaku, banjir bandang membuat kerusakan pada sawah milik petani. "Sekitar 10 hektar sawah petani yang membentang dari Dusun Cempaka hingga Dusun Kemundungan rusak akibat diterjang banjir yang membawa material berupa batu, kerikil, dan lumpur," kata Makruf.
Untuk memperbaiki kembali sawah yang rusak, Makruf mengaku sudah melapor ke dinas pertanian setempat. Harapannya agar memperoleh bantuan dari pemerintah untuk perbaikan lahan pertanian mereka.
Dinas Pertanian Jember tahun ini menargetkan produksi padi sebanyak 1 juta ton gabah kering panen. "Sulit untuk mencapai target itu karena produksi pada tanaman musim hujan terganggu oleh hama wereng. Saat kemarau 4.500 hektar kesulitan air," kata Edi Suryanto, petani di Desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang