Banjir bandang

4.500 Ha Sawah Terancam Kekeringan

Kompas.com - 22/03/2011, 08:27 WIB

JEMBER, KOMPAS.com — Banjir bandang yang menerjang sejumlah dam pembagi air di tiga kecamatan, Kecamatan Panti, Kecamatan Rambipuji dan Kecamatan Arjasa di Jember, Jawa Timur, berpotensi menimbulkan kekeringan bagi 4.500 hektar sawah. Untuk itu, menjelang tanam padi gadu atau musim kemarau pertama, petani pemilik sawah di areal itu dianjurkan supaya tidak menanam padi.

Jika petani memaksa tanam padi, dikhawatirkan kemarau tiba dan lahan pertanian kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan tanaman padi. Untuk itu, petani dianjurkan supaya menanam palawija yang tidak terlalu banyak butuh air.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Jember Rasyid Zakaria kepada pers di Jember, Senin (21/3/2011). "Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan kemarau akan berlangsung akhir April atau awal Mei," kata Rasyid Zakaria.

Bila saat ini petani sudah menyemai banih padi, maka saat musim tanam nanti sudah kemarau. Jadi sudah kesulitan mendapat air. Jika masih memaksa tanam padi, maka kelompok tani dan himpunan petani pemakai air harus gotong royong mencari alternatif agar air bisa naik dan mengalir ke sawah. Banjir bandang menyebabkan enam unit dam pembagi air di tiga kecamatan rusak.

"Kami hanya bisa memperbaiki dua unit dam, Dam Getuk dan Dam Waru di Dusun Cempaka, Desa Pakis, Kecamatan Panti. Jika dua dam selesai dan berfungsi dengan baik, maka bisa menyelamatkan lahan pertanian seluas 300 hektar dari kekeringan," ujar Rasyid Zakaria.

Ia berharap ada dana dari APBN sebab dana tak diduga sudah tinggal Rp 2 miliar dari Rp 5 miliar yang dianggarkan di awal tahun. Jika dihabiskan khawatir menjelang musim hujan akhir tahun butuh dana lebih banyak lagi.

Makruf, Ketua Kelompok Tani di Dusun Kemundungan, Desa Pakis, Kecamatan Panti, mengaku, banjir bandang membuat kerusakan pada sawah milik petani. "Sekitar 10 hektar sawah petani yang membentang dari Dusun Cempaka hingga Dusun Kemundungan rusak akibat diterjang banjir yang membawa material berupa batu, kerikil, dan lumpur," kata Makruf.

Untuk memperbaiki kembali sawah yang rusak, Makruf mengaku sudah melapor ke dinas pertanian setempat. Harapannya agar memperoleh bantuan dari pemerintah untuk perbaikan lahan pertanian mereka.

Dinas Pertanian Jember tahun ini menargetkan produksi padi sebanyak 1 juta ton gabah kering panen. "Sulit untuk mencapai target itu karena produksi pada tanaman musim hujan terganggu oleh hama wereng. Saat kemarau 4.500 hektar kesulitan air," kata Edi Suryanto, petani di Desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau