Kasus anand krishna

Pelecehan Seksual Cuma Topeng

Kompas.com - 22/03/2011, 20:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hakim persidangan terdakwa kasus pelecehan seksual, Anand Krishna, lebih banyak mempermasalahkan pemikiran-pemikiran dalam buku Anand selama proses persidangan. Kasus pelecehan seksual yang harusnya menjadi pokok permasalahan justru berkurang porsinya.

"Selama sidang, Pak Anand justru sering disinggung tentang pemikiran-pemikiran yang dituangkannya melalui buku," ujar kuasa hukum Anand Krishna, Dwi Ria Latifa, ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (22/3/2011).

Ia juga menambahkan bahwa dalam laporan berita acara pemeriksaan (BAP), penyidik lebih banyak mengarah ke pemikiran-pemikiran kliennya, bukan ke kasus pelecehan seksual yang dituduhkan kepada Anand.

"Pak Anand merasa kasus pelecehan ini hanyalah cara untuk mengkriminalisasi pemikiran-pemikiran beliau," ungkap Ria.

Anand Krishna tidak hanya dikenal sebagai pemilik Yayasan Anand Ashram, tetapi juga sebagai penulis buku-buku bertema spiritual. Pemikiran Anand kerap dinilai kontroversial. Padahal, Anand sering menjelaskan bahwa inti dari buah pemikirannya hanyalah mengajak orang bersatu tanpa membeda-bedakan agamanya.

Ria menjelaskan, kliennya sangat kecewa jika dugaan tersebut benar. Pada dasarnya, Anand Krishna hanya ingin menyebarkan kebaikan, tetapi terjadi kesalahpahaman dalam penerimaannya."Hakim tidak obyektif dalam menangani kasus ini. Perilakunya tidak independen," ujarnya.

Seperti telah diberitakan, Anand Krishna merupakan terdakwa kasus pelecehan seksual terhadap Tara Pradipta Laksmi. Berdasarkan persidangan pada hari Rabu (9/3/2011), majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta memutuskan untuk menahan Anand di Rumah Tahanan Klas I Cipinang, Jakarta Timur.

Namun, Anand sempat pingsan setelah melakukan aksi mogok makan sehingga kini masih dirawat di Ruang ICU Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur. Anand melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes terhadap putusan majelis hakim menahannya yang dirasa tidak adil.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau