Transportasi

KA Barang Belum Layak Dapat Subsidi

Kompas.com - 23/03/2011, 03:15 WIB

Jakarta, Kompas - Kementerian Keuangan menilai, industri angkutan barang menggunakan kereta api belum layak mendapatkan perlakuan khusus untuk mendorong bisnisnya, termasuk perlakuan istimewa dalam bentuk subsidi harga solar. Efisiensi bisnis PT Kereta Api Indonesia sebaiknya dilakukan dengan memperbaiki pengelolaan bisnisnya.

”Seharusnya, kereta api tanpa ada perlakuan khusus pun harus bisa lebih efisien. Bagaimanapun, seharusnya pengangkutan dengan kereta api itu jauh lebih ekonomis dibandingkan mengirim barang menggunakan truk,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Soemantri Brodjonegoro, di Jakarta, Selasa (22/3).

Bambang menanggapi permohonan Menteri Perhubungan terkait kesetaraan perlakuan angkutan kereta api dan angkutan darat yang tak kunjung dibalas Menteri Keuangan. Sejak Juli 2010, surat itu dilayangkan dan belum juga dijawab. Padahal, meningkatnya ketegangan di Libya dapat melambungkan harga minyak mentah yang kemudian melambungkan subsidi BBM yang seharusnya dapat diredam dengan pemanfaatan transportasi massal yang lebih efisien bahan bakar (Kompas, 22/3).

Lebih unggul dari truk

Menurut Bambang, dalam industri pengangkutan barang, kereta api memiliki keunggulan dibandingkan truk, yakni bebas kemacetan dan mendapatkan keistimewaan jalur khusus. Dengan demikian, masalah lebih tingginya harga solar kereta dibandingkan truk bukan permasalahan utama yang menyebabkan inefisiensi kereta di Indonesia.

”Mengirim barang menggunakan kereta api lebih ekonomis dibandingkan menggunakan truk. Namun, permasalahan bukan pada solar atau bahan bakar, tetapi lebih ke permasalahan manajemen. Inti masalah persaingan kereta api (dengan truk) bukan pada masalah bahan bakar,” katanya.

Ketika ditanya tentang perbedaan harga beli solar yang mencapai 212 persen di atas harga solar bersubsidi (Rp 4.500 per liter) yang dinikmati armada truk, Bambang mengatakan, truk memang layak mengonsumsi BBM bersubsidi karena kondisi jalan yang buruk dan akses terbatas akibat kemacetan. Dengan demikian, untuk mendorong peningkatan bisnis pengangkutan barang menggunakan kereta api perlu kebijakan yang memperlancar jalur kereta api.

”Artinya, harus ada upaya untuk memudahkan pemakaian jaringan itu sehingga kereta api lebih mudah bergerak dari tempat produksi ke pelabuhan,” ujar Bambang. (OIN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau