Harga sapi merosot

Peternak Sapi Mulai Gagal Bayar Kredit

Kompas.com - 23/03/2011, 18:40 WIB

JEMBER, KOMPAS.com - Anggota kelompok peternak sapi di Desa Grenden Kecamatan Puger dan Desa Muneng Kecamatan Gumukmas, Jember, Jawa Timur sangat terpukul dengan merosotnya harga sapi sejak dua tahun terakhir ini. Mereka terancam bangkrut dan khawatir tidak mampu mengembalikan kredit ketahanan pangan dan energi atau KKPE yang diterimanya dua tahun lalu.

Untuk membayar bunga kredit saja, kelompok ternak merasa kesulitan, apalagi mengembalikan cicilan modal dan bunga. Agus cahyono, ketua kelompok ternak sapi Barokah Desa Grenden Kecamatan Puger, Jember, Rabu (23/3/11) mengatakan, harga sapi kini semakin turun sehingga peternak sulit bisa mendapatkan hasil.

Dua tahun lalu jika beli pedet Rp 2,5 juta, setelah empat bulan kemudian laku Rp 5 juta - Rp 7 juta. Sekarang yang dulu harganya Rp 12 juta malah dibeli dengan harga Rp 7 juta.

"Sekarang tidak seperti dulu, agar bisa impas saja sudah bagus. Apalagi mengharapkan hasil dari beternak sapi potong," ungkap Kokok, anggota kelompok Barokah di Desa Grenden. Harga berbagai jenis sapi anjlok seiring kebijakan pemerintah mengizinkan impor sapi.

Gatot P Setiawan, peternak di Desa Muneng Kecamatan Gumukmas menambahkan, merosotnya harga sapi sangat memukul peternak karena sub sektor peternakan, terutama sapi jadi tidak berkembang. Anehnya, harga daging sapi tidak pernah beranjak turun.

Upaya mensejahterakan peternak, pemerintah menerbitkan program kredit ketahanan pangan dan energi. Setiap kelompok ternak memperoleh bantuan atau kredit program ini senilai Rp 300 juta.

Kelompok ternak sapi Barokah Desa Grenden anggotanya 35 orang tetapi mengelola sapi sebanyak 8.000 ekor, kelompok ternak di Desa Muneng mengelola sapi sebanyak 12.000 ekor. Ada yang dirawat sendiri, ada pula yang digaduh ke orang lain. Keuntungan dibagi dua setelah dikurangi biaya, sekarang ini kasihan penggaduh karena rugi terus, ungkap Agus Cahyono.

Menurut Agus Cahyono, dari kredit Rp 300 juta yang diterimnya, setiap enam bulan harus mencicil Rp 50 juta. Sejak dua tahun terakhir ini peternak rugi, sehingga hanya mampu membayar bunga modal sebesar Rp 9 juta .

Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jember Dalhar mengakui harga sapi jatuh total dibandingkan sejak dua tahun terakhir. Jika beli sapi saat itu dan dijual sekarang memang rugi banyak. "Tapi sekarang kan ada peternak yang dapat kreditnya belakangan dan bisa membeli ternak yang masih harganya murah," kata Dalhar.

Ketua Komisi B DPRD Jember Anang Murwanto mengatakan, merosotnya harga sapi bukan hanya menimpa peternak di Jember, tapi berlaku secara nasional. Untuk meringankan beban peternak perlu diupayakan agar ada penjadwalan ulang mengenai pelunasan kredit.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau