China Gemetar soal Timteng

Kompas.com - 24/03/2011, 03:51 WIB

Canberra, Rabu - China bereaksi keras terkait perlawanan rakyat terhadap sejumlah pemerintahan di Tunisia, Mesir, dan Libya. China menekan minoritas etnis Uighur. Demikian dikatakan Rabiya Kadeer, aktivis Uighur, di ruang parlemen Australia di Canberra, Rabu (23/3).

Kadeer diundang dua anggota parlemen Australia. China keberatan atas undangan itu dan menyebutnya sebagai seorang separatis. Pengusaha berusia 65 tahun asal China, yang kini bermukim di AS, itu mengatakan, penggulingan rezim di Timur Tengah mengirimkan sinyal kegugupan pada pemimpin China.

Ada kekhawatiran bahwa kesabaran rakyat bisa habis dan suatu hari rakyat bangkit menantang rezim. Kadeer mengatakan, China telah menjawab kekhawatiran itu dengan melakukan tindakan keras.

Aksi aparat membuat kota-kota di bagian barat China, seperti Kashgar dan Urumqi, mirip zona perang. Tentara menggeledah rumah-rumah dan mengumpulkan sejumlah warga minoritas Muslim Uighur. Aparat juga mencari-cari alasan untuk menahan mereka.

”Kejadian di Tunisia dan Mesir memberikan efek kuat pada rakyat Uighur dan rakyat China secara umum soal harapan akan sebuah dunia yang lebih baik dan perubahan,” kata Kadeer kepada para anggota parlemen, wartawan, dan staf politik.

Perang saudara

Sejumlah pemerhati isu hak asasi manusia mengatakan, aparat keamanan menggunakan kekhawatiran akan terjadinya demonstrasi, yang terdorong akibat kasus di Timur Tengah. Ini telah dijadikan sebagai dalih untuk menindak keras dan meluas siapa pun yang menurut pemerintah menjadi ancaman.

Sementara itu, aksi protes dan tindakan keras masih mewarnai keadaan di beberapa negara Timur Tengah. Di Sana’a, ibu kota Yaman, Presiden Ali Abdullah Saleh memperingatkan bahwa negara itu bisa jatuh ke sebuah perang saudara ”berdarah”.

Dukungan kepada Presiden dari kalangan sekutu politik dan militer telah runtuh. Kubu oposisi juga menolak tawaran Presiden untuk mundur sebelum akhir 2011. Puluhan ribu orang berdemonstrasi di ibu kota untuk menuntut pengunduran dirinya segera.

Aksi demonstran menguat setelah komandan militer bergabung dan mendukung perjuangan mereka.

Hari Rabu, pasukan Suriah menewaskan sedikitnya enam orang dalam serangan ke sebuah masjid di kota Deraa, Suriah selatan. Di kota tersebut berlangsung demonstrasi menantang pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Bahrain menghentikan penerbangan ke dan dari Lebanon setelah memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Lebanon. Hal tersebut dilakukan setelah kelompok Hezbollah Lebanon menyatakan dukungan kepada kaum Syiah Bahrain. (AP/Reuters/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau