Pasca-gempa

Industri Jepang Hijrah ke Indonesia?

Kompas.com - 24/03/2011, 11:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com  — Industri manufaktur Jepang bakal relokasi ke Indonesia. Relokasi sejumlah industri Jepang ini diutamakan untuk industri yang belum mangkrak di Indonesia.

“Mereka punya pikiran untuk relokasi. Khususnya yang belum diproduksi di sini,” kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di sela launching tahun kimia internasional bertajuk “Industri Kimia Nasional Dalam Kebangkitan Industri Manufaktur” di Jakarta, Rabu (23/3/2011).

Menurutnya, relokasi Jepang ke Indonesia ditujukan sebagai upaya percepatan pemulihan perekonomian Jepang setelah digoyang gempa dan terjangan tsunami. “Ada pemahaman dalam situasi seperti ini untuk recovery lebih cepat bagi industri di sana,” ujarnya.

Dia menambahkan, keberadaan industri manufaktur Jepang akan membuat industri penunjang di Tanah Air bermunculan. "Kami tentu harus siapkan fasilitasnya. Saya belum berani mengajak mereka bicara serius. Karena mereka masih seperti ini,”ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, MS Hidayat mengaku tengah membujuk Jepang untuk relokasi industri manufakturnya, khususnya industri manufaktur untuk otomotif. Namun, sejauh ini Pemerintah Indonesia masih menantikan waktu yang tepat untuk berbicara serius mengenai hal ini bersama Jepang. (Srihandriatmo Malau)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau