Hakim Anand di Bawah Tekanan?

Kompas.com - 24/03/2011, 20:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dwi Ria Latifa, pengacara Anand Krishna, kembali mengungkapkan kekecewaan terhadap proses hukum yang sedang dijalani kliennya. Ia menduga majelis hakim berada di bawah tekanan pihak tertentu.

Hal ini diutarakan Dwi Ria merujuk pada fakta persidangan. "Saksi korban masuk (memberi kesaksian di pengadilan) bukan karena alasan hukum tapi sekadar untuk mengakomodir surat yang dikirimkan institusi tertentu," ungkap Dwi sesaat setelah mengantarkan Adnan Buyung Nasution membesuk Anand Krishna di RS Pusat Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (24/3/2011).

Saat dimintai informasi tentang instansi dimaksud, Dwi menolak menyebutkannya secara terbuka dan mempersilahkan pihak media untuk menyelidiki sendiri.

Dwi Ria juga mengutarakan kegalauannya terhadap independensi ketua majelis hakim yang memimpin proses persidangan kasus Anand Krishna. Hal ini terungkap dari tidak terjalinnya benang merah antara tuduhan yang diarahkan pada Anand Krishna dan arah proses persidangan.

"Majelis hakim lebih mengarahkan jalannya proses peradilan pada penggalian fakta-fakta terkait pemikiran dan tulisan-tulisan Anand Krishna, bukan pada fakta-fakta tuduhan pelecehan seksual," tandas Dwi.

Dwi mensinyalir, ada upaya mengkriminalisasi pemikiran Anand di balik kasus ini. Pasalnya, tidak ada upaya memadai pihak hakim untuk menggali tuduhan pelecehan seksual yang didakwakan kepada Anand.

Anand Krishna saat ini masih menjalani mogok makan sebagai protes atas keputusan hakim pengadilan Jakarta Selatan yang menjadikannya sebagai terdakwa. Ia sempat dirawat di RS Fatmawati Jakarta Selatan, setelah jatuh pingsan karena kondisi tubuhnya melemah.

Sejak Kamis, 17 Maret, ia dipindahkan ke RS Polri, Jakarta Timur. Saat ini, ia dirawat di HCU Ruang Isolasi Intensive Care Unit (ICU) Lantai 3, RS Pusat Polri, Kramat Jati.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau