Himawan: Perumnas Ingin Seperti HDB Singapura

Kompas.com - 24/03/2011, 22:15 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Perum Perumnas berharap pemerintah menyetujui perusahaan itu menjadi seperti The Housing and Development Board (HDB) Singapura yang membangun dan bertanggung jawab atas pengadaan perumahan rakyat.

Direktur Utama Perum Perumnas Himawan Arief dalam percakapan dengan Kompas.com Kamis (24/3/11) malam di Semarang mengatakan, komitmen Pemerintah Singapura menyediakan rumah rakyat sangat kuat. Meskipun di Singapura banyak pengembang yang kuat, namun HDB yang bertugas membangun apartemen rakyat.

“Usul ini sudah kami usulkan ke pemerintah, tapi belum ada kepastian hingga kini,” kata Himawan yang sudah tiga tahun menjadi orang nomor satu di Perum Perumnas itu,

Himawan menegaskan, Perum Perumnas ingin mengambil lagi peran membangun dan mengelola rumah rakyat seperti yang pernah dilakukan perusahaan BUMN itu sejak tahun 1974 hingga 1990-an. Ini berarti mengembalikan tujuan pendirian Perum Perumnas tahun 1974 di mana Perumnas menyediakan perumahan rakyat untuk masyarakat menengah dan menengah bawah. “Kami membangun rumah di 300 lokasi di 150 kota di Indonesia,” katanya.

Dulu, kata Himawan, ibaratnya orang lempar kertas dari atas, pasti jatuh ke tanah Perumnas. “Tapi sekarang peran Perumnas dikecilkan. Kalau mau benahi masalah perumahan, mari kita maksimalkan kembali peran Perumnas sebagai penyedia rumah rakyat dan rumah murah. Tak usah buat badan baru, perbaiki kekurangan dan maksimalkan peran Perumnas,” tandas Himawan.

“Salah satu peran Perum Perumnas dalam penyediaan rumah rakyat terlihat hasilnya di Depok, Jawa Barat. Dulu Perumnas lah yang membangun perumahan di Depok. Dan setelah komunitas terbentuk, baru pengembang besar masuk,” jelas Himawan.

Sebelum pemerintah mencanangkan program 1.000 menara rusunami dan rusunawa, kata Himawan, Perumnas sudah sejak lama membangun rumah susun antara lain di Kebon Kacang, Klender, Kemayoran di Jakarta, juga di Sarijadi Bandung dan di Palembang. Sampai saat ini, Perumnas memiliki 11.000 rusunami dan rusunawa. Untuk mengelola 11.000 unit itu, Perumnas defisit Rp 15 miliar setiap tahun.

Sebagai perusahaan, Perum Perumnas harus tetap bisa hidup dan mendapatkan keuntungan. Dan sebagai BUMN, Perumnas harus berperan sebagai agen pembangunan, yang tak hanya menggarap kelas menengah.

“Sampai kini, belum ada keputusan apakah Perum Perumnas hanya sebagai salah satu pengembang saja, atau berperan sebagai National Housing Agency. Usul ini disampaikan ke Presiden,” jelas Himawan.

Ia berharap landbank Perumnas harus diperluas dan bekerja sama dengan pemda. Perumnas mengelola landbank dan mengajak swasta mengembangkan perumahan rakyat.

Jadi, kata Himawan, ia mengusulkan Perum Perumnas membangun rumah-rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) namun Perumnas tetap bisa membangun rumah kelas atas agar bisa mensubsidi MBR. Sementara pengembang yang tergabung dalam Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) mengisi kekosongan pembangunan rumah rakyat yang sebelumnya dibangun Perumnas. Dan pengembang REI membangun rumah menengah atas.

Dengan cara ini, kata Himawan, kebutuhan rumah dapat teratasi. “Program rumah murah yang dicanangkan Presiden, bisa menjadi trigger awal,” katanya. Dirut Perum Perumnas itu prihatin isu perumahan kurang mendapat perhatian pemerintah, termasuk pemda dan politisi-politisi di Senayan. Ia berharap semua pihak peduli pada penyediaan rumah rakyat dan rumah murah karena ini kebutuhan sebagian besar rakyat Indonesia.

Himawan Arief berada di Semarang untuk menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) yang akan dibuka Menpera Suharso Monoarfa Jumat (25/3/11) pagi besok. Rakernas ini digelar DPP Apersi. (KSP)

.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau