Kemacetan jakarta

Moda Angkutan Umum Tak Menarik Minat

Kompas.com - 24/03/2011, 22:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kemacetan lalu lintas ditandai dengan kondisi lalu lintas dengan kecepatan rata-rata rendah. Begitu pula yang terjadi di Jakarta, kepadatan lalu lintas akibat kendaraan bermotor menimbulkan kemacetan yang parah.

Dihubungi Kompas.com, Kamis (24/3/2011), pengamat transportasi Masyarakat Transportasi Indonesia, Danang Parikesit, mengatakan ledakan penggunaan kendaraan pribadi yang menyebabkan kemacetan di Jakarta semakin parah. Hal ini tentu dipicu oleh efektivitas waktu jika memakai kendaraan pribadi dan angkutan umum yang tidak menawarkan jasa yang memadai.

Moda angkutan umum yang ada di Jakarta kurang menarik masyarakat sehingga sebagian besar beralih ke kendaraan pribadi.

"Harus ada peraturan untuk angkutan umum agar tertib dan masyarakat mau menggunakannya. Karena sumber kemacetan itu kan dari kendaraan pribadi yang semakin banyak," ujar Danang.

Wakil Direktur Transportasi Bappenas, Petrus Sumarsono, Rabu kemarin, juga sempat menyampaikan bahwa terjadi penurunan angka penggunaan angkutan umum di kalangan masyarakat. Pada tahun 2002, penggunaan angkutan umum sekitar 33,5 persen kemudian merosot menjadi 12,9 persen pada tahun 2010.

Sedangkan angka penggunaan kendaraan pribadi khususnya sepeda motor justru meningkat. Pada tahun 2002, jumlah pengendara motor hanya 21 persen kemudian melonjak menjadi 48,3 persen pada tahun 2010.

Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Produksi sepeda motor tidak berhenti bahkan semakin meningkat sedangkan prasarana jalan tidak bertambah. Ketimpangan ini jelas memperparah kondisi lalu lintas Jakarta.

"Menambah armada angkutan umum saja tidak menyelesaikan masalah. Tapi menambah dan diimbangi dengan memelihara bisa menjadi jalan keluar agar masyarakat nyaman dan menjadikan transportasi publik sebagai pilihan," ucap Danang.

Besar harapan, peningkatan pelayanan transportasi publik membuat para pemakai kendaraan pribadi mau kembali menggunakan angkutan umum dan ikut serta mengurai kemacetan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau