NAMROLE, KOMPAS.com — Listrik sering padam di Kabupaten Buru Selatan, Maluku. Sebuah perusahaan cold storage dan pengolahan ikan tuna menjadi tuna loin milik warga terpaksa berhenti karena tidak lancarnya pasokan listrik.
Arsyad Waliulu (35), warga Namrole, mengatakan, Kamis (24/3/2011), biasanya listrik hanya menyala malam hari. Namun, sudah tiga hari listrik mati seharian. Menurutnya, bukan kali ini saja pasokan listrik bermasalah. "Bahkan bisa sampai dua hingga tiga bulan listrik mati," tambahnya.
Tidak lancarnya pasokan listrik ini membuat kantor-kantor pemerintahan dan sekolah menggunakan genset. Begitu pula sejumlah tempat usaha seperti penginapan.
Dalam sehari, dibutuhkan setidaknya 10 liter solar untuk mengoperasikan genset. Biaya untuk pembelian solar ini Rp 60.000 sampai Rp 100.000 karena harga solar di Buru Selatan berkisar Rp 6.000 sampai Rp 10.000 per liter.
Kepala Bidang Kelembagaan Ekonomi dan Sumber Daya Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Buru Selatan Cones Sahetapy mengatakan, sering padamnya listrik itu biasanya disebabkan gangguan pada jaringan listrik.
Jaringan listrik memanjang dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Wansisi, Kecamatan Waisama, hingga Namrole yang berjarak 36 kilometer. Jaringan ini sering terganggu akibat terkena batang pohon yang roboh atau angin kencang. Selain itu, sering padamnya listrik juga kerap diakibatkan terlambatnya pasokan bahan bakar ke PLTD.
Tidak lancarnya pasokan listrik ini menjadi salah satu masalah yang menghambat pertumbuhan di Buru Selatan.
Ibrahim Sulisa (40), salah seorang pengolah ikan tuna di Desa Lektama, Namrole, mengatakan, perusahaan cold storage di desanya berhenti beroperasi setahun lalu. Begitu pula usaha pengolahan tuna loin miliknya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang