Pantai gading

Lantaran Rusuh, 462 Warga Terbunuh

Kompas.com - 25/03/2011, 14:44 WIB

ABIDJAN, KOMPAS.com - Aksi kekerasan menewaskan 52 orang di Pantai Gading pekan lalu. Insiden itu menambah korban tewas tahun ini menjadi 462, kata misi PBB, Kamis (24/3/2011). Sementara, orang kuat Laurent Gbagbo tetap mempertahankan kekuasaannya.     

Tembakan roket dan senjata api lainnya menghantam daerah pinggiran Abidjan di Abobo, pangkalan Presiden Alassane Ouattara yang diakui internasional, kata para saksi mata.      Operasi PBB di Pantai Gading (UNOCI) mengatakan wilayah barat negara itu juga dilanda kerusuhan, dengan para petempur milisi menjarah satu gudang milik badan pengungsi PBB. "Pekan lalu penembakan dan aksi kekerasan secara membabi buta terhadap warga sipil menewaskan setidaknya 52 orang termasuk lima anak-anak dan tujuh wanita, serta belasan orang cedera," kata wakil direktur misi PBB.     

"Jumlah seluruh orang yang tewas menjadi 462 orang sejak pertengahan  Desember 2010," kata Guillaume Ngefa kepada wartawan.     

Di Abobo, tempat banyak terjadi aksi kekerasan baru-baru ini menjadi pusat bentrokan senjata, dan seorang penduduk kepada AFP mengatakan ia mendengar suara tembakan senjata berat, roket-roket dan  senjata api lainnya dekat lokasi tiu. Ia hanya melihat para anggota Pasukan Pertahanan dan Keamanan (FDS) yang pro-Gbagbo, tambahnya.     

Pasukan pro-Ouattara  dalam pekan-pekan belakangan ini terlibat bentrokan senjata dengan pasukan yang setia pada Gbagbo ketika mereka berusaha memasuki pangkalan milisi Ouattara di Abobo.     

PBB, Kamis memperingatkan pasukan Gbagbo dan milisi lokal yang mendukung Ouattara  bahwa  serangan dengan sengaja dan tanpa pandang bulu atau serangan sistematis terhadap penduduk sipil  dapat merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.     

Ngefa mengatakan penduduk ibu kota bisnis Abidjan terus mengungsi meninggalkan  tempat-tempat tinggal mereka akibat aksi kekerasan itu dan tidak adanya akses bagi pangan dan obat-obatan.     

Velerie Amos, kepala operasi-operasi bantuan kemanusiaan dan darurat di markas besar  lembaga itu di New York, merasa prihatin atas situasi itu. "Aksi kekerasan yang meningkat dan penggunaan senjata-senjata berat, terutama di daerah-daerah perkotaan, akan meningkatkan jumlah korban tewas dikalangan penduduk sipil," katanya dalam satu pernyataan.     

"Saya juga prihatin atas target dan gangguan terhadap para imigran dari daerah-daerah lain Afrika Barat, ribuan orang dari mereka  telah meninggalkan negara itu," katanya.     

"Kehancuran properti sipil termasuk toko-toko juga sama sekali tidak dapat diterima," tambahnya.     

Di wilayah barat Pantai Gading,pasukan-pasukan yang berseteru  terlibat pertempuran  di kota-kota strategis. "Banyak terjadi bentrokan senjata di Guiglo," kata juru bicara UNOCI  Hamadoun Toure kepada wartawan.     

"Ada serangan-serangan dan penjarahan terhadap satu badan PBB, Gudang badan pengungsi PBB (HCR) dijarah," tambahnya.     

Guiglo, serta Duekoue, 30km di timur laut, adalah pelintasan-pelintasan penting menuju daerah timur ke ibu kota politik Yamassoukro dan selatan ke San Pedro,pelabuhan ekspor kakao terbesar dunia.     

Sumber-sumber Rabu mengatakan ribuan orang mengungsi untuk meghindari bentrokan senjata di jalan antara Guiglo-- yang dikuasai pasukan pro Gbagbo-- dan kota Blolequin, sekitar 60km di barat, direbut milisi pro Ouattara, Senin.     

UNOCI, Selasa menyatakan kecemasannya atas penggunaan senjata-senjata berat oleh pasukan Gbagbo terhadap warga sipil. UNOCI berusaha keras untuk mencegah penggunaan helikopter tempur MI-24 yang sedang diperbaiki di lokasi milter bandara Abidjan, serta peluncur-peluncur roket M21 yang berada di tangan pasukan Gbagbo," kata Toure, Kamis memperingatkan.      Misi PBB berkekuatan 10.000 personil dikecam karena gagal melindungi warga sipil semantara aksi kekerasan meningkat, tetapi Toure mengatakan misinya terbatas pada mandat penjaga perdamaiannya.     

Masyarakat Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS), yang melakukan pertemuan di ibu kota Nigeria, Abuja , Kamis menyerukan Dewan Keamanan PBB memperkuat mandat itu. Mereka ingin misi itu dapat menggunakan segala cara yang diperlukan untuk melindungi nyawa dan properti, dan memfasilitasi pengalihan segera kekuasaan kepada Alassane Ouattara.      ECOWAS juga meminta Dewan Keamanan PBB memberlakukan sanksi-sanksi internasional lebih keras terhadap Gbagbo dan sekutu-sekutunya.     

Kelompok Gbagbo mengecam keras misi PBB itu dan menuntut mereka meninggalkan Pantai Gading.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau