Toisutta Dijegal? Tidak Masuk Akal

Kompas.com - 25/03/2011, 17:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan pemain tim nasional, Nasir Salassa, menilai, sangat tidak masuk akal jika George Toisutta harus dijegal sebagai ketua umum PSSI periode 2011-2015. Sebab, menurutnya, Toisutta sosok yang layak menggantikan Nurdin Halid.

Sejumlah kalangan memang mengendus PSSI berusaha mempertahankan status quo. Dugaan itu muncul mulai dari Peraturan Organisasi (PO) yang dinilai akal-akalan hingga perubahan komposisi suara.

"Kalau ada yang menjegal TNI, sangat tidak masuk akal," kata Nasir kepada wartawan, Jumat (25/3/2011).

Mengingat Toisutta merupakan pejabat TNI, Nasir menilai, Toisutta sosok yang tepat sebagi ketua umum PSSI. Mantan pemain tim nasional periode 1980-1990 itu mengaku yakin Toisutta bisa membangkitkan persepakbolaan Indonesia.

"Petinggi-petinggi dari ketua umum yang terdahulu bekas dari TNI dan berhasil. Sejarah membuktikan bahwa Marsekal Madya Kardono, Laksamana Ali Sadikin, dan Brigjen Bardosono berhasil semua. Sejarah membuktikan. Kenapa tidak diberi kesempatan kepada Pak George?" kata Nasir tegas.

Pada kesempata itu, Nasir juga mengimbau kepada para pemilik hak suara menggunakan hati nuraninya memilih pengurus PSSI yang benar-benar mempunyai tujuan memperbaiki sepak bola nasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau