Mengolah Semur yang Legit dan Kental

Kompas.com - 25/03/2011, 18:04 WIB

KOMPAS.com — Semur, sesuai makna aslinya dalam bahasa Belanda, smoor, artinya masakan daging yang direbus dengan tomat dan bawang secara perlahan. Di Indonesia, tersedianya berbagai rempah membuat cara pengolahan semur dan citarasanya menjadi semakin beragam. Hal ini penting, bahkan pakar kuliner chef Ragil Imam Wibowo menganggap penguasaan pembuatan semur perlu ditingkatkan agar tradisi kuliner ini selalu terjaga.

Menurut chef Ragil, syarat memasak semur adalah bahannya harus segar. "Kalau tidak, rasanya akan berbeda jauh. Semur daging harus dimasak minimal empat jam, kalau ayam tiga jam. Ikan tergolong paling cepat matang," katanya, saat talk show bertema "Semur: Turun-temurun Menghangatkan Hati Keluarga Indonesia" di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Cepat tidaknya memasak semur daging, menurut Ragil, tergantung daging yang dipakai. Bagian daging yang keras, seperti paha, akan empuk dalam waktu sekitar empat jam. Sedangkan daging has dalam dan luar hanya membutuhkan sekitar satu jam. Agar cepat matang, biasanya ditambahkan sesuatu yang asam di bagian akhir pengolahan.

"Asam itu membantu melunakkan daging sehingga membuat cepat matang. Biasanya digunakan tomat agar cepat matang. Cuka bisa membuatnya lebih simpel. Atau pakai belimbing wuluh," katanya melanjutkan.

Ragil juga menyarankan, sebaiknya komposisi bumbu-bumbunya seimbang, tidak dominan bawang merah atau bawang putihnya. Bawang putih bisa ditonjolkan ketika rasa dominan yang ingin diambil adalah rasa segar, misalnya karena memakai hidangan laut seperti yang cenderung amis. Tomat hijau bisa menggantikan bawang putih untuk menciptakan rasa segar.

Banyak orang yang gemar menambahkan sambal untuk masakan, perlukah semur didampingi oleh sambal?

Menurut Ragil, aslinya semur tidak dimakan memakai sambal. Hanya saja, lama-kelamaan orang menambahkan cabe rawit ke dalamnya agar kuahnya pedas. "Tetapi, karena tidak semua suka pedas, dibuatlah sambal. Paling enak sambal rebus yang dibuat dari bawang merah, bawang putih, cabe rawit, lalu diblender. Rasanya akan jauh lebih halus dan menyatu, daripada jika penyajiannya dipisah," tuturnya.

Untuk membuat citarasa semur yang berbeda, Ragil mendorong Anda untuk mengubah cara memasaknya. Bereksperimenlah dengan semur. Buat dulu kuah yang enak, lalu masukkan dagingnya. Cobalah membuat semur dari buntut sapi, iga, atau daging sengkel. Rasanya akan menjadi gurih dan juicy karena ada otot-otot yang menjadi empuk seperti kikil. Rasanya akan berbeda jika menggunakan daging gandih karena cenderung kering.

Makanan otentik Indonesia biasanya lebih enak bila diendapkan beberapa hari, seperti sayur lodeh. Semur pun begitu. "Panaskan dulu beberapa kali sampai kuahnya kental dan bumbunya mengendap di bawah. Itu yang paling enak," seru Ragil.

Ingin mulai mencoba mengolah semur?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau