Kisah Pembudidaya Ikan di Saguling

Kompas.com - 27/03/2011, 08:58 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - "Ini bisnis yang enggak nentu. Kadang untung kadang buntung,". Begitulah keluh Haerul Lengkong (33), pembudi daya ikan kerambah jaring apung (KJA) di aliran air Waduk Cirata, tepatnya di Danau Jangari, Cianjur, Jawa Barat.

Haerul dan ribuan pembudi daya di Jangari harus merogoh kocek untuk sederet pengeluaran hingga panen. Terkadang, pengeluaran tak sebanding dengan hasil panen hingga akhirnya merugi.

Haerul mengatakan, para pembudi daya kerap dimintai pungutan liar dari para preman. Para jagoan kampung menghampiri kerambah-kerambah di tengah danau dengan perahu. "Kalau ada saya kasih buat beli rokok. Kalau ngga ada yah bilang aja enggak ada," cerita dia ketika ditemui Kompas.com, di kolam miliknya.

Jika tak memberi uang, kata Haerul, terkadang mereka merusak jaring dengan melubangi di beberapa bagian di tengah malam. Para pembudi daya biasanya baru tahu ketika panen, jumlah ikan jauh berkurang dari benih yang ditebar.

"Jaring saya pernah dirusak. Kalau cuma disayat masih mending, ikan sedikit yang keluar. Tapi kalau dibolongi, ikan banyak keluar," ucap dia.

Tak hanya pungutan liar, para pembudi daya juga harus berhadapan dengan para pencuri ikan dan pakan di tengah malam. Biasanya, kata Haerul, komplotan pencuri menyerok ikan di kolam-kolam. Yang lebih ekstrem, komplotan melepas jaring dari tiang-tiang dipinggir kolam lalu menyatukan jaring hingga akhirnya ditarik dengan perahu.

"Kolam ini juga pernah ditarik. Untung masih bibit. Waktu itu hilang enam kuintal bibit. Kita baru tahu paginya. Banyak juga kejadian kaya gitu di kolam lain. Ada juga pencuri yang ketangkap," kisah pria yang telah menjaga delapan kolam milik keluarganya selama lima tahun itu.

Para pembudi daya juga harus berhadapan dengan harga pakan yang cenderung naik dari tahun ketahun. Kini, harga pakan perkilo antara Rp 5.200 hingga Rp 5.500. Haerul memerlukan dua ton pakan untuk 12.000 ikan bawal perkolam hingga panen 45 hari kedepan.

"Pas panen harga enggak tentu. Enggak tau apa ada permainan bandar atau karena apa. Sekarang harga lagi jelek, Rp 7.700 perkilo. Kemarin Rp 8.500 perkilo. Harga pakan aja udah berapa. Sekarang seharusnya satu kolam dipanen (2 ton). Saya lagi nunggu bandar yang berani kasih harga lebih tinggi," ucap dia.

"Lebih parah lagi bandar enggak mau bayar. Padahal ikan udah diangkut. Bilangnya besok dibayar. Kita pernah enggak dibayar. Alasan dia bangkut. Kita samperin, dia bilang mau dimatiin (bunuh), matiin aja. Udah gitu mau gimana lagi. Jadi kita harus hati-hati pilih bandar. Kalau bisa bayar waktu diangkat," papar dia.

Virus

Tak seterusnya ikan dapat dipanen penuh. Kondisi air Sungai Citarum yang tercemar berbagai limbah mulai dari hulu serta pasang surut air membuat ikan gampang mati. Seperti pembudi daya di aliran Sungai Saguling, tepatnya di Desa Bongas, Kecamatan Cililin, Bandung Barat. Dari 5.000 kerambah yang memenuhi sungai di tahun 1990 -an, kini tinggal 500 -an kerambah yang masih bertahan.

Sugianto (38), mantan pembudi daya menjelaskan, saat ini, pembudi daya harus memindah-mindahkan kerambah dengan perahu jika air surut. Semakin lama, kata dia, debit air yang mengalir semakin menurun. Kemudian, tambahnya, berbagai limbah dari Sungai Citarum masuk ke Sungai Saguling setiap awal tahun.

"Limbahnya enggak kelihatan tapi ngendap di bawah sungai. Waktu musim hujan, terjadi arus balik," kata dia. Akibatnya, terjadi aboiling atau arus bawah air yang naik membawa kotoran dibawah hingga ikan mati. Minimal 25 persen ikan mati," kata H. Ridwan (44), pembudi daya yang masih aktif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau