Lagi Gizi Buruk Mendera 27 Balita Miskin

Kompas.com - 27/03/2011, 13:25 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Sebanyak 27 bayi di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Malang, Jawa Timur, dinyatakan menderita gizi buruk.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang M Fauzi, Minggu, mengatakan, balita penderita gizi buruk tersebut sudah ditangani di RSSA Malang, bahkan telah diperbolehkan pulang.

Namun, mereka masih dalam pengawasan serius dinas kesehatan melalui bidan desa maupun kader kesehatan di masing-masing kecamatan.

"Salah satu penyebab balita yang mengalami gizi buruk di Kabupaten Malang ini adalah sebagai akibat dari pola asuh yang salah dan keliru terutama pola makan," katanya menegaskan.

Selain itu, ujarnya, gizi buruk bisa karena adanya faktor keturunan, tidak tercukupinya asupan gizi karena orangtuanya tergolong warga miskin, dan pola asuh yang keliru.

Menurut dia, untuk melakukan penanganan tersebut, dinkes sudah melakukan langkah optimal dengan memberikan asupan makanan seperti susu dan bubur gratis sampai penderita gizi buruk sehat dan kembali normal.

Kasi Gizi Masyarakat Dinkes Kabupaten Malang Riyanto berharap, orangtua balita lebih aktif dan rutin membawa anaknya ke posyandu.

"Selama ini dinkes kesulitan mendata dan memberikan perhatian kepada balita penderita gizi buruk, jika tidak pernah dibawa ke posyandu secara rutin," tuturnya.

Pentingnya membawa balita ke posyandu untuk mendeteksi kesehatan anak sejak dini. Diharapkan semua orangtua yang memiliki balita rajin ke posyandu.

Saat ini di Kabupaten Malang ada 2.766 posyandu, tersebar di 398 desa di daerah ini.

Sementara itu, jumlah balita sesuai data di dinkes setempat ada 27 balita mengalami gizi buruk dari total jumlah balita mencapai 209.886 orang.

Untuk mengawasi asupan gizi yang cukup bagi balita, dinkes setempat menerjunkan 13.840 kader kesehatan.

"Tugas utama para kader kesehatan adalah memberikan perhatian dan pengawasan langsung kepada balita penderita gizi buruk maupun yang berat badannya berada di garis merah (kurang)," katanya menambahkan.

Menyikapi banyaknya balita menderita gizi buruk tersebut, Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Malang Purnomo Anwar mengusulkan agar pelajaran tentang gizi bisa dimasukkan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah.

"Pelajaran tentang gizi ini untuk kepentingan jangka panjang agar kelak para siswa ini tahu dan sadar betul akan pentingnya pengetahuan berkaitan dengan gizi," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau