jakarta, Kompas -
”Identitas pelaku sudah kami peroleh. Saya dan sejumlah anggota reserse gabungan sejak kemarin sudah memburu pelakunya, tetapi belum berhasil,” ungkap Kasat Resmob Polda Metro Ajun Komisaris Besar Herry Heryawan saat dihubungi, Minggu (27/3).
Ia menjelaskan, Sabtu (26/3) dini hari, seorang sopir taksi Zulkarnaen Predy (43) mengantar pelaku ke Tanah Abang Bongkaran.
Menurut tiga saksi yang diperiksa, setibanya di lokasi yang dituju, penumpang membayar sesuai argo, Rp 21.000. Korban diduga tidak mau menerima karena sudah ada perjanjian lisan dengan pelaku yang isinya, pelaku mau membayar korban Rp 100.000.
Pelaku lalu turun dari taksi dan mencari pinjaman uang dari sejumlah saksi. Setelah mendapat uang pinjaman Rp 35.000, pelaku kembali ke taksi dan menyerahkan uang tersebut kepada korban. Namun, lagi-lagi korban mendesak pelaku memenuhi janjinya. Pelaku kesal dan bertengkar dengan korban.
Pelaku lalu menghunus pisau sekitar 15 jari dan menikam dada kiri korban. Pisau melukai jantung korban. Predy roboh dan tewas di sebelah kanan taksi bernomor polisi B-1245-EC.
Peristiwa terjadi pukul 04.00. Predy dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, dalam kondisi pisau masih tertancap di dada kirinya.
Pria kelahiran Jakarta, 6 April 1968, itu adalah warga Kembangan Utara, RT 5 RW 3, Jakarta Barat.
Jumlah kasus pembunuhan yang terjadi di Jakarta memang memprihatinkan. Percekcokan dari masalah sepele hingga pertengkaran yang diwarnai mabuk minuman keras telah menjadi data suram yang mengawali tahun 2011.
Kasus terbunuhnya pengemudi angkutan umum Poltak Parlindungan, Jumat (7/1) tengah malam, telah menjadi pembuka bagi kasus pembunuhan yang melibatkan sopir kendaraan umum.
Menjelang kejadian, Poltak, pengemudi angkutan umum, minum minuman keras bersama dua rekan sekerjanya di lapo tuak Kelapa Dua Wetan, Ciracas. Tak berapa lama, Poltak terlibat pertengkaran dengan rekannya,
Kalau melihat jumlah kasus pembunuhan di wilayah hukum Polda Metro Jaya tahun 2010, yang naik 5,06 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tentu akan menjadi keprihatinan besar jika jumlah pembunuhan tahun ini meningkat lagi.
”Pembunuhan dari 75 kasus pada 2009 naik menjadi 79 kasus pada 2010,” kata Kapolda Metro Inspektur Jenderal Sutarman dalam penjelasan tentang data kejahatan selama tahun 2010.
Pada hari yang sama, Sutarman mengatakan, Polda Metro akan menggalang kebersamaan menekan kejahatan dengan warga Jakarta lewat seluruh pengurus Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas).
Pengarahan Babinkamtibmas, lanjutnya, juga bertujuan mencegah berbagai gangguan kamtibmas, untuk menekan angka kejahatan jalanan, dan meningkatkan pengamanan lingkungan swakarsa, termasuk mencegah dan mendeteksi kemungkinan pengebom yang bersembunyi di wilayah binaannya.
”Kami sadar, tanpa keterlibatan warga, polisi akan gagal dalam membina keamanan dan ketertiban Jakarta,” katanya.
Polisi, lanjut Sutarman, bukan siapa-siapa tanpa dukungan warga.