Penggunaan Antibiotik Makin Mengkhawatirkan

Kompas.com - 28/03/2011, 06:10 WIB

Jakarta, Kompas - Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menimbulkan dampak yang membahayakan kesehatan masyarakat. Salah satunya, resistensi bakteri terhadap antibiotik yang ada. Padahal, penemuan antibiotik generasi baru lambat karena tidak mudah.

Hal itu mengemuka dalam acara workshop dan media briefing mengenai pola peresepan obat di Indonesia, khususnya antibiotik, Sabtu (26/3) di Jakarta.

Salah satu pembicara, Dr Sharad Adhikary, perwakilan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan, kekebalan kuman terhadap antibiotik kian mengkhawatirkan dan membahayakan. ”Kekebalan kuman membuat kita bisa kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan,” katanya.

Karena itu, untuk Hari Kesehatan Sedunia yang diperingati tiap 7 April, WHO mengambil tema resistensi terhadap antibiotik dan penggunaan antibiotik secara rasional. Adhikary mengatakan, tahun 2005, ditemukan rata-rata 50 resep di puskesmas dan rumah sakit di Indonesia yang mengandung antibiotik.

Hasil serupa ditemukan dalam studi Yayasan Orangtua Peduli. Sebanyak 86,4 persen anak penderita infeksi virus yang ditandai dengan demam dan 74,1 persen anak penderita diare diresepkan dengan antibiotik.

Adhikary menyatakan, antibiotik hanya menyembuhkan penyakit akibat infeksi bakteri. Bakteri mampu bermutasi sehingga tahan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional meningkatkan resistensi bakteri terhadap antibiotik.

”Superbug”

Adhikary mencontohkan kemunculan superbug (bakteri yang tak dapat dilemahkan) oleh antibiotik paling mutakhir.

Pengobatan infeksi oleh bakteri yang kebal antibiotik menjadi amat mahal karena membutuhkan antibiotik lebih mutakhir dengan kemungkinan efek samping lebih besar serta waktu pengobatan lebih panjang. ”Kita harus menjaga efektivitas antibiotik untuk masa depan,” katanya.

Pembicara lain, Guru Besar Farmakologi Universitas Gadjah Mada Iwan Dwi Prahasto mengatakan, ketidakrasionalan penggunaan antibiotik beragam. Mulai dari ketidaktepatan dalam pemilihan jenis antibiotik hingga cara dan lama pemberian.

Kebiasaan memberikan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat, frekuensi pemberian yang keliru, dan waktu pemberian yang terlalu lama atau cepat mengurangi efikasi antibiotik sebagai pembunuh kuman. Terapi yang tidak efektif akan menimbulkan resistensi yang serius.

Penggunaan antibiotik tidak rasional yang paling sering ditemukan ialah pada batuk pilek dan diare akut akibat virus. (INE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau