Napak Tilas di Jerusalem

Kompas.com - 28/03/2011, 15:55 WIB

Oleh: Agnes Swetta Pandia

Menjelang Paskah tahun ini yang jatuh pada 22 April, jumlah wisatawan dari berbagai belahan dunia yang ingin melakukan perjalanan ziarah ke Jerusalem terus meningkat.

Masih ”satu paket” dalam rangkaian perjalanan ini adalah kunjungan ke Petra di Jordania dan Jericho di Palestina.

”Menjelang Paskah dan Natal, jumlah orang begitu berjubel sehingga menyulitkan untuk melakukan perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lain, bukan hanya ketika berjalan kaki, tetapi juga saat naik bus rombongan,” ujar pemandu wisata di Israel, Sakher Rizkallah (43).

Lokasi yang selama ini menjadi tujuan antara lain Jericho, Bethlehem, Jerusalem, Danau Galilea, Taman Getsemani, Padang Gembala, Tembok Ratapan, hingga Laut Mati yang merupakan tempat terendah di dunia, yakni -400 meter.

Peziarah ke Jerusalem rata-rata melewatkan waktu 8-10 hari. Peziarah bisa melihat secara langsung semua tempat sejak era kelahiran Yesus hingga naik ke surga.

Meski merupakan perjalanan wisata, pemeriksaan antarnegara, seperti Jordania-Israel, tetap ketat. Koper dan semua barang bawaan harus dibawa sendiri dan diperiksa secara teliti oleh petugas keamanan yang tak pernah lepas dari senjata laras panjang.

Toh, meski berada di beberapa negara berbeda, wisatawan asing tidak perlu repot menukar mata uang setempat. Seluruh transaksi bisa menggunakan dollar Amerika Serikat.

Lewat Jordania

Tujuan pertama ketika menjejak di Jordania adalah Petra, salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Di tempat ini tersaji keindahan struktur bangunan hasil karya suku Nabataen. Bangunan pada tebing-tebing batu warna merah dan indah itu dibangun pada abad ke-1 sebelum Masehi.

Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke Jerusalem. Selama ini umumnya wisatawan Indonesia tidak masuk langsung ke Jerusalem, tapi melalui Mesir dan keluar dari Jordania atau sebaliknya. Kini pilihannya adalah keluar dan masuk melalui Jordania karena relatif lebih aman.

Dalam perjalanan kali ini, rombongan diajak menuju Qumran, melihat goa tempat ditemukannya gulungan suci yang kini berupa kitab suci yang ditulis oleh suku Esseni sejak zaman Yesus.

Setiap rombongan ziarah umumnya didampingi pembimbing rohani, dan kami menggelar misa di kapel atau gereja yang sudah dikontak terlebih dahulu oleh biro perjalanan di Israel.

Prosesi jalan salib juga dilakukan pada pagi hari meski melewati beberapa pasar dan kawasan perumahan padat. Jerusalem yang berpenduduk sekitar 725.000 jiwa merupakan kota penting bagi sejumlah umat agama, baik Yahudi, Kristiani, maupun Muslim.

Menurut Sakher, sarjana teologi yang berprofesi sebagai pemandu wisata di wilayah Israel, dua tahun terakhir jumlah wisatawan ke Jerusalem rata-rata 3 juta orang per tahun, dan khusus ke Bethlehem sebanyak 1 juta orang. Bahkan, tahun 2010 tidak kurang dari 6.000 turis dari Indonesia mengunjungi kota ini.

Meningkatnya jumlah turis dari sejumlah negara di dunia, menurut ayah tiga anak itu, tecermin dari semakin padatnya jumlah pengunjung di lokasi ziarah.

Untuk melihat sekaligus berdoa di goa tempat Yesus lahir, termasuk palungan, misalnya, peziarah harus antre berjam-jam. Umumnya lokasi ziarah berada di bawah tanah dan di atasnya sudah dibangun gereja atau kapel.

Setelah meninggalkan Jerusalem, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Amman, Jordania, dan singgah di Gunung Nebo, tempat Nabi Musa melihat Jerusalem.

Perjalanan kali ini bukan sekadar cuci mata dan membeli cendera mata, tetapi meresapi dan merasakan keagungan Tuhan. Apa yang dibaca pada kitab suci bisa dilihat dan dirasakan secara nyata di kota-kota ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau