BANGKOK, KOMPAS.com — Kabinet Thailand, Senin (28/3/2011), mengambil langkah-langkah untuk membantu korban banjir di provinsi selatan, khususnya di daerah terparah Nakhon Si Thammarat. Kabinet pun mengangkat bencana alam saat ini sebagai hal penting bagi agenda nasional. Delapan orang tewas dalam banjir di Nakhon Si Thammarat.
Sidang kabinet mingguan dipindahkan dari Selasa ke Senin pada saat komisi gabungan parlemen bersidang untuk membahas dokumen-dokumen Komite Bersama Perbatasan Thailand-Kamboja (JBC) yang dijadwalkan dilanjutkan Selasa. Kabinet diharapkan mengevaluasi situasi di provinsi yang dilanda banjir dan kerusakan-kerusakan yang terjadi sehingga bantuan untuk korban banjir bisa diatur.
Menteri pada Kantor Perdana Menteri, Sathit Wongnongtoey, mengatakan, ia akan meminta kabinet untuk mempertimbangkan bencana alam saat ini sebagai agenda nasional, seperti gempa dan tsunami baru-baru ini yang telah memengaruhi banyak orang sementara peringatan tidak dikeluarkan secara tepat waktu.
Di Thailand publik kurang terbiasa dengan bagaimana menanggapi bencana berskala besar di samping masih adanya kekurangan peralatan terkait dengan paket peralatan peringatan dan bencana.
Ia mengatakan, usulan untuk memperbaiki lembaga terkait untuk merespons lebih cepat terhadap bencana dan perdana menteri akan menjadi komandan inti dari badan yang bersangkutan.
Dalam hal ini sektor swasta akan diundang untuk berkoordinasi dengan organisasi yang memiliki keahlian di bidang-bidang terkait. Departemen Meteorologi telah mengeluarkan peringatan banjir di provinsi-provinsi selatan.
Ini sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Senin. Departemen mengatakan pembentukan tekanan udara rendah meliputi Thailand tengah-selatan.
Hujan deras bertahan di banyak daerah di sebelah selatan dan penduduk harus waspada untuk kemungkinan banjir bandang. Daerah berisiko termasuk Provinsi Chumphon, Ranong, Phuket, Phangnga, Surat Thani, Nakhon Si Thammarat, Phatthalung, Trang, dan Satun.
Tinggi gelombang dua sampai tiga meter akan membuat Teluk Thailand sulit bagi perahu-perahu kecil. Semua kapal harus dikemudikan secara berhati-hati dan kapal-kapal kecil tetap di darat selama beberapa hari. Selama 29-30 Maret, tekanan udara rendah akan bergerak ke Laut Andaman dan Teluk Benggala.