Kejuaraan atletik jatim open 2011

Nasib Suryo Agung Terkatung-katung

Kompas.com - 28/03/2011, 20:32 WIB

SURABAYA, Kompas.com — Nasib pemegang rekor lari 100 meter putra Suryo Agung Wibowo terkatung-katung. Dalam kejuaraan atletik Jawa Timur Open 2011, Suryo didaftarkan oleh kontingen DKI Jakarta dan Jawa Tengah. Oleh karena itu, dia akan berlomba di nomor tersebut Selasa (29/3/11) pukul 08.15 hanya dengan membawa nama pelatnas dan dirinya sendiri untuk memenuhi kualifikasi PON 2012.

"Saya sudah pindah ke DKI Jakarta, tetapi Jateng tidak mau melepas. Malah saya diminta mengembalikan uang dari Jateng yang Rp 3 juta per bulan selama 24 bulan. Namun, saya juga harus mengembalikan uang bonus Rp 1 miliar," kata Suryo di Stadion Atletik Oentoeng Poejadi FIK Universitas Negeri Surabaya, Senin (28/3/11).

Dia menyatakan siap mengembalikan seluruhnya karena dia tidak pernah memanfaatkan uang tersebut. "Jateng bilang saya terus menerima uang saku. Mereka terus mengirimi ke rekening saya. Ketika saya hendak mengembalikan, nomor rekening untuk mengembalikan uang itu tidak pernah dikasih," kata Suryo.

Alasan dia memilih DKI Jakarta karena selama ini dia tidak punya pelatih di Jateng. Pernah dia membela PPLP Jateng di tingkat nasional tahun 2001 di Popnas Palembang. Namun, dia hanya enam bulan terdaftar di PPLP Salatiga ketika dia kelas tiga SMA. Dia pun mau kembali ke Jateng jika pelatih awalnya menangani dia lagi. Ternyata, hingga kini dia tetap tidak punya pelatih.

"Nama pelatih ada, sebatas di SK pengangkatan saja, tetapi tidak turun langsung menangani saya," kata Suryo.

Sekum PASI Jateng Husen Effendi menyatakan, masalah Suryo dibawa ke arbitrase KONI Pusat. Menurut dia lebih baik Suryo berlomba under protess yakni tidak membawa nama kontingen mana pun jika masih diperebutkan DKI Jakarta dan Jateng. "Sayang memang karena dia sprinter terbaik Indonesia saat ini," kata Husen.

Selain Suryo, ada beberapa atlet lainnya yang mengalami nasib serupa. Misalnya, Yan Karubaba yang didaftarkan Jawa Barat dan Papua Barat. "Saya masih menghitung berapa persisnya jumlah atlet yang didaftarkan oleh kedua daerah sekaligus karena menunggu surat mereka. Namun, nasib mereka selambatnya ditentukan Selasa pukul 07.30," kata Ketua Panitia Pelaksana Edy Mintarto.

Angin dan rekor

Jatim Open 2011 diikuti lebih dari 1.000 atlet. Mereka bertarung untuk memenuhi limit kualifikasi PON XVIII/2010. Ada beberapa kejuaraan yang menjadi ajang untuk mencapai limit dan Jatim Open adalah yang pertama. Berikutnya di Kejuaraan Nasional Atletik, akhir Juni dan terakhir di Kejurnas Atletik Yunior, April 2012.

Ada beberapa limit kualifikasi yang berubah, yakni nomor lari 400 meter putra berubah dari 50,50 detik menjadi 50,00 detik, sedangkan lari 800 meter putra berubah dari 2:00,00 menjadi 1:57,00. Sementara lari 5.000 meter putra berubah dari 15:30,00 menjadi 15:25,00. Nomor lain adalah 400 meter gawang putra dari 56,50 detik menjadi 56,00 detik.

Untuk nomor tolak peluru putra dari 12,95 meter menjadi 13.00 meter, lempar cakram dari limit semula 40,45 meter menjadi 43.00 meter, dan lempar lembing dari 54,70 meter menjadi 56.00 meter. Sementara perubahan untuk putri antara lain di nomor 100 meter dari semula 12,70 detik menjadi 12,50 detik.  

Stadion Atletik Oentoeng Poejadi FIK Universitas Negeri Surabaya tidak memiliki tribune dan berupa arena terbuka. Jadi, angin leluasa berembus ke seluruh area. Kecepatan angin melebihi batas yang berlaku dalam suatu perlombaan. Oleh karena itu, ketika angin bertiup kencang, catatan waktu atlet tidak diperhitungkan.  

"Anginnya terlalu kencang kecepatannya +4," kata S Nureani, pelatih nomor sprint pelatnas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau