AS Persenjatai Rakyat Lawan Taliban

Kompas.com - 28/03/2011, 23:42 WIB

KABUL, KOMPAS.com — Upaya Amerika Serikat mempersenjatai penduduk desa Afganistan untuk melawan Taliban bisa menjadi bumerang dan akhirnya mengarah pada angkatan baru panglima perang.

Pembentukan Kepolisian Daerah Afganistan (ALP) adalah bagian penting dari siasat kontra-pemberontakan tentara Amerika Serikat (AS) saat negara adidaya itu bersiap memulai penarikan 90.000 tentaranya dari Afganistan pada musim panas ini.

AS menggambarkan ALP sebagai cara sementara terhadap kondisi kekurangan jumlah polisi di banyak bagian di negeri itu, yang diperburuk oleh upaya berulang dari Taliban dalam menyasar calon anggota.

Namun, pengecam kepolisian setempat membandingkannya dengan milisi suku yang dibentuk pemimpin komunis Afganistan pada 1980-an.

Saat itu, milisi suku dibentuk untuk membantu mengalahkan pemberontakan, melawan serbuan Uni Soviet pada 1979. Namun beberapa di antaranya kemudian berbalik melawan pemerintah.

"Kita tidak perlu Dostum lagi," kata Nader Nadery dari Komisi Mandiri Hak Asasi Manusia Afghanistan, mengacu pada Panglima Perang Afganistan Abdul Rashid Dostum, yang terkenal mengkhianati sekutu setelah kekuasaan negara itu beralih.

Banyak orang percaya, kekejaman Dostum dan orang lain seperti dia membuka jalan bagi Taliban untuk merebut kekuasaan pada pertengahan 1990-an setelah bertahun-tahun perang saudara di Afganistan.

Presiden Hamid Karzai, yang pada awalnya skeptis, Agustus lalu setuju membentuk ALP, yang akan dikendalikan Kementerian Dalam Negeri.

Hekmat Karzai, Direktur Pusat Kajian Sengketa dan Perdamaian Afganistan, memperingatkan soal bahaya menciptakan "Monster Frankenstein" jika ALP tidak dipantau dengan baik.

Duta utama warga NATO di Afganistan, Mark Sedwill, menyatakan, pasukan itu akan "diawasi sangat ketat".

"Senjata didaftar, biometrik mereka didaftar, dan mereka berada di bawah tanggung jawab gerakan kepala polisi setempat," kata Sedwill. Ia juga menyatakan bahwa pasukan itu dirancang sebagai langkah jangka pendek, tetapi juga memiliki kemungkinan untuk menjadi cikal bakal bagian dari kepolisian Afganistan.

Hingga kini, 4.000 anggota telah dikader dan ada rencana untuk membentuk kekuatan 30.000 orang sehingga memungkinkan 300 orang dikirim ke 100 dari 420 kabupaten di Afganistan.

Mereka dibayar sekitar 60 persen dari gaji pokok polisi negara senilai 165 dollar AS (sekitar Rp 1,4 juta). Mereka juga akan memakai seragam berbeda.

"Mereka tidak memiliki wewenang menangkap. Mereka hanya memiliki kewenangan bela diri dan mereka digunakan secara kedaerahan," kata Jenderal William Caldwell dari AS, Kepala NTMA. "Kami tidak menginginkan panglima perang," katanya.

Menurut jajak pendapat, dukungan rakyat AS untuk perang di Afganistan anjlok ke tingkat terendah sejak Barack Obama menjadi presiden.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau