Penipuan

Akhirnya Borgol Melingkari Tangan Selly

Kompas.com - 29/03/2011, 09:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Seorang perempuan berparas cantik mengenakan kacamata hitam dan bertopi berjalan cepat-cepat diapit dua pria keluar dari Terminal Kedatangan 1 C di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Senin (28/3/2011) petang.

Tangan kanannya dipegang, sedangkan lengan kirinya, yang berdempet dengan seorang pria, tertutup jaket.

Mereka langsung masuk ke mobil Toyota Avanza berwarna hitam yang sudah parkir di tepi jalan. Begitu masuk, laki-laki yang merupakan penyidik Polres Bogor Kota, Jawa Barat, itu melepas jaket penutup tangan sang gadis yang tak lain adalah Selly Yustiawati alias Rasellya Rahman Taher (26).

Di balik jaket itu, borgol melingkar di tangan kiri Selly dan tangan kanan Kepala Unit II Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor Kota Inspektur Satu Nasrudin.

Begitu duduk di bangku tengah mobil, Selly yang diapit petugas membuka topi. Dengan tenang ia mengeluarkan sebungkus rokok mild. Dengan alasan tak tahan dingin, kepada petugas ia meminta izin untuk menyalakan rokok. Petugas tidak keberatan.

Selly begitu tenang. Setenang itu pula ia menghadapi orang-orang yang menjadi korban penipuannya di sejumlah kota, seperti Jakarta, Bogor, Bandung, dan Yogyakarta.

Gaya bicara yang santai, tenang, ditambah paras wajahnya yang terbilang menarik, dengan kulit cerah, hidung bangir, dan bibir sensual, membuat sebagian besar korbannya yang merupakan laki-laki pasrah saja menyerahkan sejumlah uang kepadanya.

Konon, ia memulai penipuan itu sejak tahun 2009. Korbannya sudah mencapai puluhan orang. Ia sempat dijebak dan digiring ke Kepolisian Sektor Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada awal tahun 2010, tetapi kembali melenggang bebas dan kembali ”menipu”.

Baru pada Minggu, 27 Maret, ini ia ditangkap di Denpasar, Bali, ketika sedang bersama pria yang disebut-sebut kekasihnya.

Senin sore, dia diberangkatkan ke Jakarta untuk melanjutkan perjalanan ke Bogor. Kasusnya akan diproses Polres Bogor Kota lantaran sejak Maret 2010 ia sudah dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang oleh Polres Bogor Kota.

Pasalnya, beberapa korbannya di Kota Bogor melapor ke polisi. Salah seorang di antaranya adalah warga Kelurahan Ranggamekar, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Vc (26), yang kehilangan Rp 10 juta.

Ia berangkat dari Denpasar menuju Jakarta menggunakan pesawat Citylink, pukul 15.00. Ia baru bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 17.30 dan tiba di Polres Bogor Kota pukul 21.23 WIB.

Ia sempat berhenti, berbicara kepada wartawan yang menunggu, ”Saya masih capek, baru sampai. Belum bisa memberikan keterangan. Nanti saja, ya,” tuturnya tenang.

Setelah itu, Selly masuk ke ruang Satuan Reskrim Polres Bogor Kota di Jalan Kapten Muslihat. Hanya sekitar 15 menit setelah itu, ia kembali keluar ruangan dan menuju ke mobil yang sama untuk dibawa ke ruang tahanan di Kedung Halang, sekitar 5 kilometer dari sana.

Kali ini ia tetap tenang berjalan, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibirnya.

Ia didampingi penasihat hukumnya, Ramdan Alamsyah. Ramdan mengaku akan mendampingi Selly semaksimal mungkin. Namun, dia mengaku belum banyak berbincang soal latar belakang, kronologi, ataupun motif di balik kasus-kasus penipuan yang melibatkan kliennya. Begitu pula dengan jumlah korbannya di sejumlah kota yang disebut-sebut mencapai puluhan orang.

Kepala Satuan Reskrim Polres Bogor Kota Ajun Komisaris Indra Gunawan menuturkan, atas perbuatannya, Selly bisa dijerat dengan Pasal 378 KUHP, dengan ancaman empat tahun penjara.

Soal uang hasil penipuan yang disebut-sebut untuk memenuhi gaya hidupnya, Indra mengaku masih mendalami.

Jurus si cantik

Banyak cara yang dilakukan Selly yang bergelar S-1 Komunikasi itu untuk memperdaya korbannya.

Tahun lalu, aksi Selly ini juga sempat ramai diperbincangkan di situs jejaring sosial Facebook. Dia sempat dijuluki sebagai penipu ulung. Fotonya pun beredar di situs.

Salah satu modusnya adalah menawarkan kerja sama bisnis pulsa berupa keuntungan berlipat. Setelah korbannya mentransfer sejumlah uang kepadanya, dia langsung menghilang.

Informasi dari sumber di Polres Bogor Kota, Selly mengaku melakukan itu untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup metropolitan, mentraktir teman, karaoke, atau berbelanja. Ia ingin terlihat ”lebih” dibandingkan dengan teman-temannya. Selly menyangkal disebut penipu karena korbannya dianggap teman.

Yang jelas, si cantik yang kini terlihat pucat itu harus rela tangannya terbelenggu dan berada di balik jeruji besi. (Antony Lee)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau