JAKARTA, KOMPAS.com - Penutupan kelokan dari Jalan Sudirman menuju Jalan Prof Satrio ditunda hingga minggu pertama April. Penundaan itu dilakukan karena masih banyak warga Jakarta yang belum paham ruas jalan yang akan ditutup.
Banyak warga mengira jalan yang ditutup adalah Jalan Prof Satrio (Casablanca) sehingga menimbulkan keresahan dan kesalahpahaman. Padahal, jalan yang akan ditutup adalah jalan belok untuk kendaraan yang dari Jalan Sudirman menuju ke arah Casablanca. Panjang jalan tersebut hanya 70 meter.
”Masih banyaknya warga Jakarta yang belum mengerti masalah penutupan ini dikarenakan sosialisasi yang diberikan masih sangat kurang. Padahal, sosialisasi ini sangat penting mengingat berkaitan dengan kemacetan,” papar Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Jakarta, Senin (28/3/2011).
Fauzi menilai, spanduk, pengumuman, dan informasi yang telah diberikan masih kurang. ”Seharusnya pengumumannya tidak hanya dipasang di sekitar lokasi penutupan. Pengumuman itu dipasang di seluruh Jakarta. Pengumuman tablig akbar saja dipasang di mana-mana. Masak, mau mengubah rute, pengumumannya terbatas,” tutur dia.
Sementara itu Kepala Bidang Jembatan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Novizal mengatakan, penutupan itu dilakukan karena pembuatan fondasi tiang jalan layang Casablanca sangat membutuhkan ruang yang cukup lapang. ”Penutupan itu diperkirakan akan berlangsung selama tiga bulan,” kata Novizal.
Berkaitan dengan penutupan itu, dinas perhubungan dan Polda Metro Jaya telah membuat beberapa jalur alternatif. Jalur itu adalah: kendaraan dari arah utara Monas yang ingin menuju Prof Satrio-Kampung Melayu bisa melalui Jalan Kebon Sirih-Tugu Tani-Jalan Menteng Raya-Taman Suropati-Jalan Rasuna Said.
Selain melalui Tugu Tani, kendaraan juga bisa melalui Jalan Wahid Hasyim-traffic light (TL) Yusuf Adiwinata-Jalan Cokroaminoto-Jalan Rasuna Said. Alternatif lain, kendaraan dari Jalan MH Thamrin belok ke Jalan Imam Bonjol-Taman Suropati-Jalan Rasuna Said. Atau dari Jalan Sudirman-Jalan Blora-Jalan Latuharhari-Jalan Cimahi-Jalan Cianjur-Jalan Rasuna Said.
Masyarakat juga bisa menggunakan Jalan Sudirman-Dukuh Atas belok kiri-depan Hotel Shangrila-TL Karet belok kiri-fly over Sudirman-Jalan Prof Satrio.
Jalan lainnya, Jalan Sudirman-Semanggi (memutar)-Jalan Sudirman (arah utara)-Gedung Dharmala belok kiri-memutar samping Hotel Le Meredian-fly over Sudirman-Jalan Prof Satrio. Selain itu juga bisa melalui Jalan Abdul Muis-Jalan KH Mas Mansyur.
Sistem
Pada kesempatan itu, Gubernur Fauzi Bowo juga menyampaikan, sistem jalan berbayar secara elektronik (electronic road pricing/ERP) yang sedang disiapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan bisa diterapkan karena belum ada peraturan pemerintah dari pemerintah pusat.
Sistem jalan berbayar secara elektronik diambil sebagai salah satu upaya untuk membatasi lalu lintas dan menggantikan kebijakan 3 in 1 yang sudah tak efektif.
”Kendala yang dihadapi dalam penerapan ini adalah PP turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan masih belum diterbitkan. Jika tak ada PP, peraturan daerah juga tak bisa dibuat,” kata Fauzi.
Selain itu, dasar pelaksanaan pemungutan retribusi juga belum termuat dalam UU No 28/2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Pemprov DKI rencananya akan membuat tiga kawasan berbayar. (ARN)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang