DAMASKUS, SELASA
Bersamaan dengan mundurnya anggota kabinet pemerintahan Assad, ratusan ribu pendukungnya menggelar unjuk rasa sebagai balasan terhadap berbagai aksi demonstrasi sebelumnya yang menentang pemerintah.
Demonstrasi menentang Presiden Assad dan rezimnya pecah di berbagai wilayah negeri itu sejak pertengahan Maret. Sedikitnya 61 orang tewas dalam bentrokan dan kekacauan yang terjadi dalam unjuk rasa itu.
”Rakyat Suriah tetap menginginkan Bashar Assad!” seru kelompok pendukung pemerintah, yang memenuhi lapangan di tengah kota Damaskus. Sebuah poster raksasa bergambar Presiden Assad juga dipasang di gedung Bank Sentral Suriah.
Para pendukung yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak berkerumun di sekitar lokasi itu. Poster yang mereka bawa, antara lain, bertuliskan ”Tidak kepada Sektarianisme, Tidak kepada Perlawanan Sipil”. Kekacauan yang terjadi di Suriah disebut-sebut berlatar isu sektarian.
Sejak awal bulan ini Presiden Assad didera berbagai aksi demonstrasi menentang dirinya, yang diyakini sudah sangat membahayakan kelangsungan rezim pemerintahannya itu.
Pengunjuk rasa dan kalangan oposisi menuntut reformasi total digelar di negeri itu. Hal itu termasuk tuntutan agar pemerintah menghapus undang-undang keadaan darurat, yang telah diberlakukan selama 50 tahun terakhir.
Sejak 11 tahun terakhir, Presiden Assad memerintah Suriah dengan tangan besi. Dia memanfaatkan UU keadaan darurat untuk keuntungan rezimnya. Aturan itu memungkinkan aparat keamanan menangkap siapa saja yang dianggap menentang dan membahayakan pemerintah.
Isu sektarian mencuat di negeri dengan mayoritas penduduk berasal dari golongan Sunni, sedangkan rezim penguasa berasal dari golongan minoritas Alawi, cabang dari Syiah. Assad memang menempatkan banyak kroninya di posisi strategis. Namun, pemerintahannya juga berhasil meningkatkan kesejahteraan dan liberalisasi ekonomi sehingga mampu mengambil hati golongan lain.