Universitas kelas dunia

Menarik Mahasiswa Internasional (II)

Kompas.com - 30/03/2011, 11:49 WIB

Dr Shannon L Smith

KOMPAS.com - Indonesia tertinggal jauh dari tetangga-tetangganya dalam hal menarik mahasiswa internasional. Sampai saat ini fokus Indonesia masih berkisar pada dua tetangga dekatnya, yaitu Malaysia dan Timor Leste, serta mahasiswa-mahasiswa yang belajar sepanjang masa studinya di Indonesia.

Saat ini, tren global dari mobilitas mahasiswa internasional bergerak ke arah yang berlawanan. Pergerakan mahasiswa internasional didominasi oleh program-program studi jangka pendek di luar negeri (Baca: Menarik Mahasiswa Internasional).

Maka, kira-kira apa yang dapat universitas-universitas di Indonesia lakukan?

Memperbanyak jumlah pilihan yang tersedia bagi mahasiswa internasional di universitas-universitas Indonesia adalah langkah pertama. Sejumlah kecil mahasiswa internasional mungkin tertarik mempelajari bahasa dan kesenian Indonesia, tapi mayoritas mencari kesempatan mendapatkan pengalaman langsung dalam bisnis, hukum, perdagangan internasional, teknologi dan informasi, arsitektur, dan disain.

Program-program tersebut harus diselenggarakan dalam bahasa Inggris dan ditawarkan di tingkat S-1. Program-program itu juga mungkin menyediakan kesempatan magang di lembaga pemerintah atau perusahaan swasta yang sesuai. Tentu, memasarkan program-program internasional ini harus dipertimbangkan dengan hati-hati.

Situs atau website universitas juga harus memiliki ruang khusus yang disediakan untuk menggambarkan program-program internasionalnya, dan itu disampaikan dalam bahasa Inggris.

Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Nasional bahkan perlu mengikuti langkah-langkah yang dilakukan seperti Malaysia (www.studymalaysia.com) dan Australia (www.studyinaustralia.gov.au), yaitu membuat portal web khusus yang disediakan untuk menggambarkan program-program internasional di seluruh Indonesia secara informatif dan menarik.

Program-program internasional yang direncanakan dengan baik mungkin menjadi kunci bagi peningkatan jumlah mahasiswa internasional tanpa kehilangan kursi yang disediakan untuk warga negara Indonesia dalam program-program S-1 reguler.

Sebagai contoh, program gelar ganda internasional seperti yang ditawarkan di Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia (FKUI) bersama fakultas kedokteran di Australia. Program ini memungkinkan fakultas ini meningkatkan kapasitas daya tampungnya dan menyediakan kurikulum kedokteran internasional untuk warga negara Indonesia dan warga negara dari negara lainnya.

Strategi itu jelas bisa meringankan beban pembiayaan untuk universitas-universitas otonomi, karena uang kuliah untuk mahasiswa lokal bisa disubsidi dengan pendapatan yang didapat dari mahasiswa internasional. Manfaat tambahannya juga ada, yaitu peningkatan pemasukan ekspor yang penting bagi negara ini.

Semua hal di atas dapat dengan mudah dicapai dan bukanlah hal baru. Di beberapa universitas saat ini sudah ada Kantor Internasional yang sangat aktif mengembangkan program-program pertukaran mahasiswa dan kemitraan riset internasional. Banyak juga yang telah melaksanakan program bersama yang diselenggarakan dalam bahasa Inggris. Tetapi, ada satu kendala yang harus diatasi.

Tidak seperti negara-negara lain di kawasan ini, Indonesia tidak memiliki kategori visa khusus untuk mahasiswa. Visa pelajar biasanya suatu kategori visa khusus untuk jangka waktu masa studi seorang pelajar ditambah beberapa minggu bagi pelajar tersebut untuk mengikuti kegiatan magang atau mendapat pengalaman kerja atau mengunjungi tempat-tempat wisata.

Penggunaan visa sosial/budaya saat ini tidak mendukung kebutuhan mahasiswa internasional dalam cara yang sama. Indonesia bisa meningkatkan kedudukannya dalam panggung pendidikan dunia. Karena, negara ini memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan kepada mahasiswa internasional, termasuk pengalaman pendidikan bermutu, sebuah kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang Indonesia, kekayaan dan keragamannya, serta kesempatan untuk mendapatkan teman-teman seumur hidup!

Penulis adalah Atase Pendidikan di Kedutaan Besar Australia di Jakarta tahun 2005 dan 2010

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau