Laba Bersih Intiland 2010 Naik 12 Kali Lipat

Kompas.com - 30/03/2011, 16:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk (Intiland) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp350,5 miliar di tahun 2010. Jumlah laba tersebut melesat lebih dari 12 kali lipat dibandingkan perolehan laba 2009 sebesar Rp25,6 miliar. Lonjakan nilai laba bersih terutama disebabkan naiknya pendapatan perseroan sepanjang tahun lalu.

Intiland tercatat membukukan pendapatan sebesar Rp842,7 miliar, naik 118 persen dibandingkan tahun 2009 senilai Rp386,8 miliar. Dari sisi operasional, laba usaha naik tiga kali lipat menjadi Rp258,1 miliar dibandingkan 2009 sebesar Rp61,3 miliar.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Intiland Lennard Ho Kian Guan menjelaskan, sepanjang 2010 manajemen berhasil mengeksekusi dengan baik sejumlah strategi kunci pertumbuhan usaha dalam rangka proses transformasi perusahaan. Strategi tersebut antara lain menggenjot penjualan inventori yang masuk kategori mature, non-core, dan low yielding, serta melakukan strategi ekspansi agresif melalui penambahan cadangan lahan, serta memperbanyak proyek-proyek baru.

Perseroan juga berhasil meningkatkan kemampuan dalam membukukan profitabilitas. Hal ini terlihat dari rasio laba bersih terhadap pendapatan yang melonjak secara signifikan. Jika tahun 2009 nilainya hanya 6,6%, maka tahun 2010 nilainya melesat menjadi 41,6%. “Sepanjang 2010 kami banyak mencapai kemajuan dan membuat berbagai terobosan. Kami berhasil masuk kembali ke dalam radar pasar modal nasional maupun internasional sehingga saat ini banyak investor institusional besar menjadi pemegang saham kami,” ujarnya.

Pencapaian hasil positif di 2010, tentunya menjadi pondasi yang kokoh bagi perusahaan untuk menciptakan pertumbuhan usaha secara masif. Manajemen memutuskan 2011 menjadi tahun pertumbuhan cepat bagi perusahaan. “Perkembangan perusahaan ke depan akan sangat substansial. Kami menfokuskan strategi kunci untuk menjadi salah satu dari hanya beberapa pengembang besar di Indonesia yang tercatat di bursa.

Melihat hasil di 2010, kami optimistik mampu mencapai target tersebut. Saat ini Intiland tumbuh secara cepat dan berkelanjutan, serta sesuai arah yang telah direncanakan,” kata Lennard.

Dari sisi nilai pendapatan usaha, kontribusi terbesar masih berasal dari penjualan residensial, baik rumah maupun apartemen yakni mencapai 86,4% atau Rp728,1 miliar. Nilai penjualan dari sektor residensial ini meningkat 171 persen dibandingkan perolehan tahun 2009.

Sementara, pendapatan dari jasa penyewaan perkantoran dan manajemen gedung menjadi kontributor terbesar kedua, yakni sebesar Rp40,8 miliar atau setara 8,2%. Disusul berikutnya kontribusi dari pendapatan sarana olah raga dan lain-lain, masing-masing sebesar Rp32,5 miliar (3,8%) dan Rp12,8 miliar (1,5%).

Belanja Modal Meningkat Pada tahun ini perseroan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (Capex) sebesar Rp1 triliun, naik dari rencana semula senilai Rp600 miliar. Lonjakan nilai capex ini mempertimbangkan banyak proyek baru skala besar yang dibangun tahun ini. Proyek-proyek baru ini terdiri dari landed residensial, mixed-use dan high rise development, kawasan industri, maupun hotel.

Berkaitan dengan sumber pendanaan untuk belanja modal, manajemen tidak terlalu khawatir mengingat posisi neraca perseroan sangat sehat. Selain itu, manajemen juga terus mengeksplorasi seluruh alternatif pembiayaan, baik dari sektor perbankan, pasar modal, maupun dari investor strategis. “Kami tetap konsisten pada empat strategi utama perseroan yakni, pertumbuhan organik, peluang akuisisi, memperbanyak kerjasama strategis, dan meningkatkan pengelolaan modal dan investasi.

Kerja sama stategis kami lakukan secara agresif, baik dengan lembaga asing maupun para pemilik lahan. Kami optimistik dapat mengeksekusi strategi-strategi tersebut dengan baik di tahun ini,” tegasnya.

Strategi pertumbuhan organik dilakukan manajemen dengan memulai pembangunan proyek-proyek baru skala besar. Untuk segmen produk residensial, Intiland fokus pada pengembangan perumahan Talaga Bestari di Tangerang, proyek baru di Cengkareng, dan Graha Natura di Surabaya. Sedangkan untuk kategori mixed-use dan high rise development, saat ini yang masih dalam tahap konstruksi adalah apartemen 1Park Residences. Sementara untuk proyek baru antara lain pengembangan proyek TB Simatupang di Jakarta dan untuk Surabaya lewat pengembangan proyek Spazio sebagai bagian dari kawasan Graha Festival, serta pengembangan Intiland Tower Surabaya.

Di bisnis perhotelan, Intiland juga berhasil mendapatkan kemajuan sangat signifikan. Setelah Yogyakarta, pengembangan jaringan Whiz Hotel juga masuk ke Jakarta, Semarang, Bali, Balikpapan, Samarinda, Makasar, Surabaya, dan Medan. Whiz Hotel Semarang akan mulai beroperasi pada Oktober 2010, bersamaan dengan Whiz Hotel Kuta dan Nusa Dua. Selain itu, pada tahun ini ada sekitar 8 Whiz Hotel yang akan dibangun, seperti Legian, Jakarta, Balikpapan, dan Pekanbaru.

“Pada bulan April, Kami akan melakukan proses ground breaking dua hotel yakni di Legian dan Balikpapan, kemudian disusul Jakarta dan Pekanbaru,” ungkap Lennard.

Seiring banyaknya proyek baru, perseroan menambah jumlah karyawan cukup banyak sepanjang 2010. Manajemen memperkirakan akan merekrut sekitar 200 karyawan baru dalam 8 bulan ke depan untuk memenuhi kebutuhan karyawan di proyek-proyek baru skala besar, di Jakarta maupun di Surabaya seperti TB Simatupang, Cengkareng dan Graha Natura. (KSP)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau