8 Tanda Anda Siap Punya Anak

Kompas.com - 31/03/2011, 10:14 WIB

KOMPAS.com - Mempunyai anak akan mengubah seluruh hidup Anda, dan Anda harus siap dengan perubahan itu. Namun benarkah banyak perempuan yang menunda momongan karena belum siap mempunyai anak? Benarkah hal itu disebabkan Anda tidak tertarik mempunyai anak? Wow... Anda sendiri ternyata tidak mampu mengenali keinginan Anda sendiri. Oleh karena itu, simak tanda-tanda bahwa Anda sebenarnya menyimpan hasrat memiliki anak, dan siap melakukannya:

1. Usai jam kantor, Anda memilih pulang ketimbang hangout bersama teman-teman
Jangan merasa hidup Anda membosankan hanya karena Anda tak lagi tergerak untuk menghabiskan malam di kafe atau kelab malam. Anda merasa lebih nyaman menyiapkan makan malam untuk suami, lalu duduk-duduk di sofa menonton TV bersama. Setelah itu, dilanjutkan ngobrol intens di tempat tidur. Dengan gaya hidup seperti ini, tandanya Anda siap punya anak.

2. Anda memimpikan bayi
Anda bermimpi berjalan-jalan sambil membopong bayi, atau menggandeng tangan batita sambil mendorongnya untuk menyapa teman-temannya. Bahkan ketika pikiran sadar Anda mengatakan "Aku belum ingin punya anak", alam bawah sadar Anda sudah melayang ke toko perlengkapan bayi sambil mendorong trolley belanjaan. Alam bawah sadar inilah yang mengungkapkan keinginan kita yang sebenarnya.

3. Ketika melihat teman membawa bayinya, Anda meluangkan waktu untuk berinteraksi
Anak-anak tak selamanya berada dalam kondisi sempurna. Seringkali mereka terlihat beringus, atau tangannya kotor penuh minyak dari makanan. Namun Anda tetap memandangnya sebagai anak yang lucu. Anda juga mampu berbicara secara natural pada anak-anak, dan seringkali bersukarela menawarkan untuk mengasuh anak ketika teman atau kakak Anda harus bepergian.

4. Kamar samping di rumah Anda terlihat kosong dan hampa
Anda membayangkan, alangkah nyamannya bila dindingnya diberi wallpaper bergambar kupu-kupu dengan warna kuning yang lembut, atau diberi perabotan mungil untuk anak-anak. Anda merasa kamar cadangan ini seharusnya tidak sekadar menjadi tempat untuk menimbun jemuran yang sudah kering dan siap disetrika.

5. Anda sudah menyiapkan nama anak meski belum hamil
Banyak perempuan yang terinspirasi dari kisah-kisah film, dan memilih nama untuk calon anaknya kelak. "Aku ingin anakku besok bernama Annisa." Atau, "Dari dulu aku ingin nama yang androgini, seperti Kayla. Lalu Anda memberitahukan hal itu pada semua teman Anda, supaya mereka tidak ikut-ikutan memakai nama itu untuk anak mereka.

6. Anda mulai mengurangi rokok, kafein, atau alkohol
Perempuan yang merencanakan kehamilan selalu diminta untuk mengatur pola makannya. Kafein dan rokok juga termasuk makanan atau kebiasaan yang perlu dikurangi, dan Anda dengan sukarela melakukannya.

7. Anda berdua sering ngobrol soal keponakan atau anak teman
Anda dan pasangan sering membahas soal anak, bahkan bagaimana pola didiknya kelak, namun tidak ada satupun dari Anda yang menyatakan tak menginginkan bayi. Anda merasa bahwa mempunyai anak adalah keputusan berdua, yang dilakukan untuk melengkapi kebahagiaan Anda sebagai keluarga. Membuat keputusan untuk mempunyai anak bisa menjadi sulit, tetapi begitu Anda hamil, perasaan Anda berbunga-bunga. Luar biasa!

8. Anda mampir ke counter pakaian anak-anak, dan membeli beberapa item. Siapa tahu nanti bisa untuk kado
Ibu-ibu biasanya paling tidak tahan melihat baju anak yang lucu-lucu. Bahkan, mereka rela mengurangi pengeluaran untuk pribadi asal bisa membeli sesuatu untuk anak. Jika Anda berpikir untuk membeli pakaian anak dan ingin menghadiahkannya pada keponakan, jelaslah bahwa Anda memang sudah siap mempunyai anak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau